Thursday, August 28, 2008

Gerimis Malam di Balik Jendela


Pada gerimis malam yang menimpahi jendela kamar yang tak seberapa luas ini
Kutitipkan salam rinduku pada mimpi yang sempat terputus itu.

Mimpi ketika kuingin sebuah hening menemani derai riang kita di malam berirama ilalang serta savana yang kutinggalkan dan terhembus hingga menembus keempat beton penyekat yang mengkotakkan kita di dalamnya.

Tentang keinginanku mendengarmu bercerita betapa kamu mengagumi Piyu dalam Harmoninya hingga tuntas. Tentang betapa kau ingin menuntaskan langkah kakimu ke belahan-belahan tinggi itu. Atau cerita-cerita lugu yang akan membuatku lupa kisah-kisah sedih yang lalu.

Kemudian ketika jedah itu tiba, aku akan memecahkankannya dengan meringkas sebuah buku yang baru katam kubaca. Ataupun menceritakan tentang galaksi-galaksi maha luas yang membentangi awang-awang itu. Jangan bertanya apakah itu sungguh atau hanya mungkin, karena aku hanya menyadurnya dari bacaan yang kumakan tiap pagi. Namun aku yakin, apapun yang kudongengkan, kau pasti tak kan lelah menyimakku berceloteh seperti aku yang tak sanggup untuk menghentikanmu menikmati kopi hangat dan semburan asap dari balik cerutumu.

Menikmatimu sama halnya seperti menikmati gerimis malam yang menimpahi jendela kamar yang tak seberapa luas ini.


Menjelang puasa di kotaku...


Surabaya makin panas menjelang Ramadhan sepertinya sudah biasa.

Ketika sahur tiba, kami seakan sudah berteman dengan keringat hasil semburan udara yang makin ngelunjak di bulan ini.


Siang menyambut dengan terik. Sepertinya sudah tak sempat untuk mengeluh meratapi matahari terang yang kian menusuk pori-pori.


Ketika berbuka, es degan dan es kolak pisang rasanya sudah cukup menjadi ajang balas dendam sepanjang siang menahan haus dan dahaga.


***
Sekedar ingin memberitahumu saja bahwa kotaku makin gerah, panas dan berkeringat.
Dan sekaligus menyisipkan pesan satu saat aku juga berharap bisa menikmati subuh berselimut dingin di kotamu itu.

Kamu sebagai imamnya dan aku pengikutmu..


Wednesday, August 27, 2008

Roti Isi Mami

Rogut, saya menyebut cemilan yang berisi wortel, kentang bercampur tepung maizena berlumur seledri serta tumisan bawang. Rogut biasanya disajikan untuk isian risoles dengan tambahan daging didalamnya. Rogut juga bisa diisikan pada lembaran-lembaran kulit roti ataupun kabin-kabin kecil lalu dicampur telur dan digoreng. Disajikan hangat bersama cabe rawit, well… it’s a great morning appetizer.

Setidaknya untuk mengisi perut-perut kosong penghuni kelas UPW (Usaha Perjalanan Wisata) kala itu. Tiap pagi pelanggan-pelanggan setia dari kelas yang dicap sebagai kelas paling ugal-ugalan sepanjang sejarah di sekolah kejuruan paling favorit di kota panas itu sudah menunggu di depan kelas menunggu si penjual roti berisi rogut tersebut menenteng jajanan hangat tersebut sebelum berebut memilih roti yang ukurannya paling besar untuk mereka makan. Jajanan hangat itu sengaja dibuat kala Subuh menjelang, lalu menempati keranjang sepeda ontel berwarna merah yang sekarang ntah sudah diontel siapa. Lalu roti itu akan ditransfer dengan mikrolet berwarna kuning menuju wilayah ter-coret di Surabaya, di sudut sekolah dimana lokasinya dekat TPA yang kadang menebarkan bau parfum sampah antah berantah ketika murid-muridnya sedang asyik bercengkrama dengan buku-buku kala pelajaran sedang dimulai. Hemmm….

Namun jangan kira bau-bau itu mempengaruhi penciuman penghuni kelas tersebut. Dengan lahap mereka akan sudah terlanjur memakan roti-roti berisi rogut itu untuk dikonsumsi dipagi hari sebelum bel berdentang. Bahkan ketika pelajaran sudah dimulaipun, roti-roti tersebut masih menghuni ruangan di bawah meja masing-masing. Bagaimana kalau guru-guru yang super disiplin itu mengetahui? Well, jangan Tanya. Terkadang pak Akhir (guru bidang studi Geografi Pariwisata) itu akan menghampiri si penjual dan berkata,

“Et, aku diingahi Roti isi siji karo tahu isi.” (Et, saya disisain satu roti sama tahu isi, ya)
“Terus apa lagi, Pak?”
“Wis.”

Sayapun tersenyum saja sambil manggut-manggut melihat tubuhnya yang melengos sesudah memesan roti isi itu. Seusai pelajaran usai, Pak Akhir akan keluar membawa buku-buku sandingannya sambil menenteng sebungkus jajanan sesudah membayarnya yang kadang kembaliannya tidak ia minta. Pak Akhir hanya contoh salah satu guru yang suka cemilan itu.

Lemet, kacang goreng, tahu isi juga menjadi side appetizer untuk dikonsumsi penghuni kelas itu di pagi hari. Bukan berarti jualan itu akan langsung habis sebelum bel berbunyi. Terkadang menu-menu yang saya bawa itu masih terkulai dalam tempatnya. Bila sudah seperti itu maka saya akan menyerukan

“Weiii tuku wei… mbayar mene!” (Weiii ayo beli… bayar besok deh!)

Langsung saja mereka menyerbu dan bisa diperkirakan roti dan side menu yang masih tersisa ludes dalam beberapa menit sesudah ACC untuk memberi mereka kredit cemilan itu.

Lima tahun kemudian ketika diadakan reuni kecil-kecilan mereka tetap mempertanyakan keberadaan roti isi itu pada saya. “Kenapa ga diterusin lagi jual roti isinya, Mi?” Roti isi mami. Kata mereka.

*****

Menu :
Roti isi  Rp. 250,-
Lemet   Rp. 250,-
Tahu Isi Rp  250,-
Kacang Rp. 200,-

Wednesday, August 13, 2008

Nickname

Membuka lagi cerita lama dari apa yang dia sempilkan padaku dalam percakapan kecil kami yang membuat aku teringat akan masa-masa dahulu yang mengundang lucu dan tawa jika diingat.
“Aku ngga mau manggil kamu seperti orang lain memanggilmu.” Begitu katanya.

Dan kukisahkan beberapa nama kecil yang pernah melekat padaku. Bahwa mereka pernah memanggilku dengan sebutan Tomboy karena saking seringnya berantem sama teman-teman cowo waktu masih duduk di bangku sekolah dasar (Tapi sayangnya paling-paling aku akan menang kalau ada beberapa teman cowo lain ikutan membantu pertempuran kecil yang dipicu oleh hal sepele).

Dia sepertinya tidak suka memanggilku dengan sebutan agak tidak tau kodrat itu. Lalu kukisahkan lagi sebutan paling lama yang mengantarku hingga aku lulus SMA.

“Mami???” Dia ngakak. Pasti pikirannya aku waktu itu mirip sama mami-mami Junior yang siap-siap mengkader teman-temanku di mall-mall dan selalu ngompori mereka supaya cabut dari kelas pas jam tambahan kursus inggris, kemudian jadi pelajar yang ngantongin nomer om-om senang terus mengoperkan mereka di kala om-om itu pengen daun muda (lha!!!! kok jadi blog sesat dan mesum gini) Ya nggak kalee.. Jadi waktu masih SMP memang sudah bakat suka sama om-om (halah balik lagee….)Waktu SMP aku sudah kesengsem sama guru Geografi, Mr. R namanya. Jadi Mr. R ini memang manis banget sampai tiap pelajarannya pasti aku perhatikan dengan seksama (wajah manisnya bukan penjelasannya tentang batas-batas Negara dan lain-lain), nilai ulangan Geografiku? Jangan ditanya mengikuti hatiku lah. Kalau Mr. R ini ngga masuk sekali aja, hati serasa hampah, gundah gulanah, mata berkunang-kunang dan akhirnya akan ada roh lain yang merasukiku lalu datang dukun anti surup yang membacakan mantra sambil muntahin air di mukaku (Waduh alam banget deeeeehhhh…. Sory sory mbelok bangetttt). Back to Mr. R. Jadi Mr. R itu selalu dipanggil “Papi” sama teman-teman. Duh… cakep-cakep kok dipanggil Papi. Buat aku kala itu, panggilan Papi itu sama noraknya dengan manggil Mami.

Tapi dasar malang tak dapat ditolak. Aku yang diciptakan sebagai makhluk super ekspresive tentang perasaan yang aku punya, langsung aja main curhat asal-asalan. Menyatakan betapa aku fall in love ma Pak R ini. Hasilnya???? Seluruh murid kelas 3 pada tahu, termasuk gebetan-gebetan norak yang kala itu langsung sukses melancarkan demo tak mau mengenal aku, secara mereka sadar ternyata aku seleranya om-om (bhuahahahahahaahaha). Teman-teman cewe tanpa tedeng aling-aling langsung mengesahkan aku sebagai “Mami” karena menurut mereka Mr. R ini serasi untuk aku - melihat kedekatan dia dan aku (siwer kali mata teman-temanku itu! Serasi dari Segitiga Bermuda!!! Rek, Pak R itu selalu memanggilku ke mejanya kan Cuma karena dia mengira aku rajin mencatat tiap materi yang dia terangkan. Maklum kala itu guru memang ngga punya sekretaris khusus untuk mengingatkan akan materi mana yang sudah diberikan- which is sekarang juga tetep guru itu ngga punya sekretaris pribadi getohhhh)Dan sukseslah aku dipanggil Mami. Hingga aku berpindah di sekolah menengah Kejuruan di mana aku juga akhirnya jatuh cinta lagi sama guru Bahasa Inggrisku yang ampiuuuuunnnn kekarrr banget badannya. Cukk selama di Kejuruan jarang banget deh ketemu cowo. Adanya bule-bule aja kalau kita lagi magang di Biro-biro perjalanan or tempat wisata. Yang jelas kita lack of man deh sampai guru juga sempat mampir di hati muridnya. Wakakakaakakak….

“Hemmmm… Mami ya?“ Pikirnya menimbang-nimbang nama yang enak untuk memanggilku.

Belum puas, kubuka lagi cerita tentang nama panggilan yang sampai sekarang kadang mampir menghampiriku di depan rumah saat beberapa teman kuliah datang. “Pas kuliah teman-teman sempat memanggilku “Stress.”

Dia langsung ketawa. Jadi pernah dalam satu kesempatan ketika menengok IP Sementara semester 2 di ruang computer (Which is Aku dah lupa apa nama ruangan itu), mereka (geng-geng gila n sering mabok itu) mendapati bahwa tak ada satupun nilai B dalam mata kuliahku kalah itu. Semua A. Maka sukseslah aku mendapat IP 4 beserta embel-embel “Stress” saat mereka memanggilku. Dan anehnya lagi kenapa aku reflek langsung menoleh saat mereka memanggilku demikian? Aku benar-benar stress atau mereka yang stress? Ntahlah, I don’t give a damn. Yang jelas jika ingat nilai kuliah yang aku sesali Cuma satu, satu-satunya nilai terburuk adalah C dan itu ada pada mata pelajaran Pancasila. Benar-benar tidak bermoral!
Dia menolak.

“Ya sudah panggil aja Etik Susanty, SS. sekalian gimana? Sesuai KTP?”
“Kepanjangaannnn.”
“Aku panggil kamu mami aja, gimana?”

Aku katakan padanya, “Terserah! Aku ngga ambil pusing orang manggil aku apa. Mami, San, Say,” Sumpah pengen meledak aja tawa ini saat aku mengatakan itu padanya. Duh kek ABG aja pake janjian kudu manggil apa. Sejak itu dia memanggilku “Mam..” … sumpeh deh ngga kuat juga aku dipanggil gituan, serasa bakal jadi mam beneran aja pas bangun pagi. Dan akhirnya dia menyerah dan bilang, “Ga enak ternyata manggil kamu mam.. Aku lebih pas panggil kamu Chan aja deh. Ga papa ya sayang…”
Hahahahaha… Katanya Chan, kok ada sayangnya.

Apalah artinya panggilan. Dulu ada yang selalu memanggilku “Cinta” tapi Cuma di bibir semata dan panggilan sayang lainnya yang mereka sematkan untukku ternyata seperti itu saja. Tidak abadi.

Jadi, bukan seperti apa kamu akan memanggilku, sayang, namun jika rasa itu benar ada untuk kunikmati jangan lepaskan lagi, biar saja kudendangkan seperti alunan semilir angin yang menghempaskan peluh perih yang sudah menyayati kulit di bawah terik mentari yang tak habis-habisnya membuatku tersedu….
Aku ingin menikmati kepulihan ini lewat semilir yang kau hembuskan. Itu saja.
C.h.a.n.


Monday, August 11, 2008

To Write is to Express

“Lu nulis aja. Kalau keburu merit, ntar inspirasi Lw ilang lo.”

Saya tertegun membaca message seseorang yang ia tulis tadi. Kebetulan teman saya ini suka membaca tiap tulisan tentang perjalanan yang saya lakukan. Sesuatu yang sudah jadi kewajiban untuk saya goreskan ketika selesai melakukan perjalanan. Rasanya ada hutang untuk tidak berbagi cerita seru dalam tiap perjalanan yang saya lakukan. Biasanya sih, apa yang orang-orang di sekitar saya lakukan itu terekam kuat di otak saya dan jika menarik saya tulis, biasanya akan saya abadikan dalam beberapa sudut cerita yang membumbui cerita tersebut.

Mungkin benar jika dikatakan bahwa tulisan itu bermutu ketika kita tidak monoton menggunakan pilihan kata, disusul dengan penambahan informasi yang super lengkap dengan gaya bahasa yang asyik, bukan seperti pemberitaan formal ataupun dibikin komedi supaya pembaca bisa membedakan antara lawakan dan catatan perjalanan yang sebenarnya.
Namun saya sangat setuju jika ada yang berpendapat bahwa ruh satu karya tulis adalah dari pengalaman si penulis sendiri. Mari ambil contoh kasus tulisan bertemakan “cinta” yang sering jadi bahan obralan dalam karya tulis. Jangan berharap orang akan merasukkan kisah cinta yang luluh lantak ataupun yang mengharu biru ke dalamnya jika si penulis tidak pernah merasakan cinta yang sesungguhnya. Seorang menulis tentang kisah perselingkuhan dengan riuh rendah dan mempesona juga akan dapat dinikmati orang lain jika ia pernah merasakan angin nadi yang naik turun dalam kesedihan bercampur kebahagiaan. Saya pernah mencoba menulis tentang cerita sains fiction mengenai UFO meskipun saya memiliki banyak referensi tentang si piring terbang itu tapi saya sunguh-sungguh tidak merasakan jiwa saya ada di situ. Dan bisa ditebak, kalimat pertama yang muncul ketika saya menyerahkan karya itu ke seseorang, dia bilang kurang sedap.

Contoh lain adalah seorang teman nan jauh di sana yang selalu saya kagumi bentuk tulisannya benar-benar terasa ruhnya ketika ia sedang jatuh cinta. Namun ketika cinta membuatnya terpuruk, tulisannya makin indah. Dan saya makin senang membacanya, menikmatinya. Tapi sayang akhir-akhir ini dia tidak menulis dengan dahsyatnya. Usut punya usut ternyata dia sedang menjalani hidup yang biasa-biasa saja tanpa perasaan cinta yang mendalam yang mewarnai hari-harinya. Juga tanpa sakit hati yang membuatnya malas membahas semua cerita hidupnya.

Tapi cinta, konflik dan patah hati saja tak cukup. Diperlukan sebuah cerita yang benar-benar mendalam. Hana (bukan nama sebenarnya) dulu begitu hebat membuat pembaca menunggu karya tulis berikutnya. Termasuk saya sebagai salah satu penggemarnya. Namun ketika Hana dihadapkan pada kisah cinta yang biasa-biasa saja ternyata tulisannya jadi sangat hambar (menurut saya). Sudah tidak memacu adrenalin lagi seperti sebelumnya ketika ia sedang bergulat mendapatkan cinta yang sesungguhnya dari lawan jenisnya.

Lalu apa hubungannya dengan ucapan teman tadi? Apa saya harus menunda untuk menemukan kebahagiaan abadi berdampingan dengan seseorang? Lalu tetap berada dalam konflik dan menjalaninya supaya saya bisa menulis dengan indah?

Entahlah. Yang jelas untuk seorang susan yang hidupnya sering terdampar pada “derita” plus “bahagia” (ciee bahasanya) adalah suatu kepuasan tersendiri bisa membagi cerita dengan para pembaca. Saya juga sadar bahwa saya selalu meniupkan sedikit selentingan kecil yang bergolak dalam hati ketika saya bahagia ataupun ketika saya terluka dalam tiap catatan perjalanan yang saya persembahakan untuk teman-teman saya. Rasanya puas sekali bisa mengekspresikannya dalam warna kata yang saya tuangkan di atasnya. Seorang yang pernah mengalami patah hati akan bisa tiba-tiba menjadi “expert” ketika menuliskan sakitnya, begitupula seorang yang sedang dilanda cinta, kesedihan yang ia tonjolkan di karyanya seakan-akan menjadi sebuah hal romantis yang patut dinikmati semua orang. Dan seorang yang pernah mengalami drama hebat petualangan antar galaxy pasti akan membuat para pembaca ingin dan ingin lagi membaca tulisannya.

Intinya ketika sudah mengalami masa-masa hidup yang lurus-lurus aja, saya kira karya tulis seseorang hanya akan menjadi sebuat flat and bare works. Tidak ada naik turunnya, kurang sense of attraction-nya. Kalau dalam dunia masak memasak namanya cemplang alias hambar. Berbeda dengan orang yang sedang berada di kehidupan yang mengalami pergolakan (let’s say so) tulisannya akan berasa lebih hidup karena ada emosi yang tersangkut di dalamnya. Dan kembali pada dunia kuliner, karya macam ini serasa sedap dan membuat orang ingin nambah dan nambah lagi untuk mencicipi menu yang ia sajikan

Hem, sepertinya saya sudah mulai bisa merasakan tulisan yang saya buat hambar atau sedap, seperti halnya kemampuan saya untuk merasakan adanya jiwa seseorang terbalut dalam tiap titik, koma dan symbol-simbol lain yang menghiasi kata dalam tiap kalimat yang mereka penulis buat.

Keep on writing, guys!

Sunday, August 10, 2008

j.a.t.u.h.

Jadi ceritanya,

Gara-gara asyik nyuci tenda dan lupa nutup tutup tandon air yang memang sama tingginya dengan ubin depan teras, dengan sukses nyemplung separoh badan dan ah..... kepentok deh.
Langsung nangis dan milih nolak pertolongan emak Nyak.
Tertatih-tatih aku jalan sendiri tanpa mau dibantu sambil meratapi nasib di pagi nan cerah itu.
Sakittttttttt...
Sesudahnya aku memilih tidur sambil tetap kesakitan. Seorang teman nan berpengalaman memberi saran untuk melakukan terapi guling.
"oh... ambil guling, dikempit aja gulingnya, tidur dan istirahat."
Ternyata ngefek benarr. Sesudahnya agak fresh pas bangun meskipun masih ada sisa-sisa lara.


Kalau jatuh kek gini jadi pengen ngebandingin antara jatuh di tandon sama jatuh di cinta (halah!). Sama-sama sakit dan sama-sama bisa bikin nangis.


Untunglah jatuh yang satunya lagi belum bikin nangis...
Dan memang harus tanpa tangis kali ya


Hemmm secara wong jowo, udah jatuh masih aja ada "untung"nya

=========================================================

Btw, jangan tanya bagian manakuh yang kepentok sampai kudu di kasih terapi guling sehari penuh....

Thursday, August 7, 2008

Ke Arjuna mencari Arjuna




Meskipun ga sesuai bahasa Brosur, Tapi pendakian bersama Milis Pendaki yang bersamaan dengan milis HC kali ini benar-benar rame. Sayang Arjunanya cuma gunung, sang Arjuna belum tergapai deh... Hahahaha
Enjoy deh..