Thursday, August 7, 2008

Ruang Rindu itu bernama Arjuna-Welirang

Rasanya baru setahun yang lalu kita bersama menapaki Argopuro secara masal. Susah senang bersama beberapa hari jauh dari rumah, namun meninggalkan jejak yang mendalam untuk selalu kita kenang. Karena kesan indah yang aku dapat selama bersama kalianlah, aku pasti melingkari tanggal di mana kalian membuat jadwal panjang untuk melangkah bersama lagi.
Mumpung masih ada umur dan ada kesempatan, akhirnya tahun ini Milis Pendaki ke AW (ralat ApW : Arjuna pondok Welirang)

====================================================================

Katanya naik AW lewat Purwosari itu enak. Katanya juga lewat Purwosari lebih menyenangkan ketimbang Tretes. Dan aku langsung mengiyakan tanpa ba bi bu ketika namaku tertulis oleh tintanya pak ketu, Nyatanya semua brosur yang di PM-in salah semua………….


Surabaya-Sengon-Purwosari –Pandansari-Tambaksari (Tambak Watu)
Baru beberapa langkah kaki ini menapaki Desa Tambak Watu alias Tambak Sari, kecurigaan itu muncul. Jalurnya bakal asal-asalan. Ngetrek, muncak tanpa ampun. Ngetrek yang Cuma kami tempuh di separuh sore itu hanya memberi bonus pemandangan gunung-gunung di samping kami yang menyapa seakan-akan senang sekali melihat kami terseok-seok menapaki AW melalui peradaban lain di pucuk Purwosari.

Teman-teman dari milis HC sudah berangkat mendahului kami anggota milis yang suka santai sambil ngocok perut di tengah hutan lewat tawa dan canda yang tanpa habis, dan persediaan logistic yang harus diecer ke dalam perut masing-masing perserta.

Namun ada satu persimpangan bonus di mana kami bertemu dengan tim hc yang masih tersisa mbak Endah dan anaknya Inda (ga pake “H” itu pesen mamanya), Rere dan Heru. Awalnya kukira Heru adalah anak Mbak Endah juga karena dia memanggil mbak Endah itu Mama. Ternyata bukan. Ya mangap secara Heru juga wajahnya agak imutan mirip Blothonk. (amit amit..)Di sini Blotonkpun mulai beraksi sejenak dengan menarik perutnya dalam-dalam supaya ga terlalu melorot pas difoto.

Melewati Tampuwono, kami meninggalkan Tim HC yang memutuskan untuk stay di sana. Dan pendaki tetep pada plan awal, terus melangkah ke Makutoromo untuk nge-camp di sana. Treknya? Jangan ditanya. Aku pernah sekali mencoba melewati tanjakan setan gunung gede dengan batu batu terjal dan pijakan-pijakan tinggi, ataupun Panderman yang kecil tapi lumayan keren bebatuannya. Di rute ini bisa kukatakan mungkin seratus kali tanjakan setan karena batu-batu besar dan menanjak itu lumayan panjang dan tanpa henti. Ahhhhhh…. It’s torturing.

Tanjakan Mendoan itu sebutan buat tanjakan yang akhirnya bisa kami keber selama 2 jam dari Tampuwono karena selama perjalanan si Master Mendoan berkali-kali memberi penawaran mendoan supaya kami makin panas utuk ber “Ah..Oh..Oh… Yes…Oh..No…” (lapo ae, Rek!) ya secara seperti itulah keadaan kami selama beberapa saat sambil ngos-ngosan ditemani keringat malam dan tak lupa bintang-bintang funky dengan rasi-rasi yang secara bizarre (cieh… bahasanya) mengamati kami dari kungkungan langit hitam di atas kami.

Tim Sesat
Semua karena kami berlima terobsesi untuk jadi bintang iklan malam dan memutuskan untuk bernarsis ria ditemani bintang-bintang yang saling bercumbu di langit.
“Photo dulu yuk” kata mas Dhanis pada kami Wondo, Lendi, Dila dan Tauvic . PD sekali kami jalan malam itu. Kadang aku di depan, ataupun Dila melaju melewati bonus lipiran yang panjang itu. Dan laki-laki itu saling mbebek di belakang.

“Bener ga nih jalan?” Kami mulai meragu. Wondo dan Lendi juga ada di sana saling menilik tanah-tanah kering mencari jejak sepatu dan manusia yang melewati jalur terbuka itu. Sulit sekali menemukan jejak-jejak itu. Mungkin jejak-jejak itu sudah terhapus seiring hujan yang menyirami tanah sebelumnya (ehemmm). Rute makin menanjak ke atas namun tak sekalipun kami menemukan jejak segar yang melewati alur sempit dan ngetrek jiper itu.
“Mbak Endah”… “Yuhuuu..” … “Susu..” kami saling teriak di tanjakan itu. Di depan kami sebelumnya ada Mas Ei, Sentot, dan Mbak Endah Cs plus Kadir. Dan belakang kami adalah Om n Tante Enoy. “Noyyy”… “Om Bongkeng….” Tapi tetap ga ada sahutan yang menjawab teriakan ketakutan akan tersesat itu. Berkali-kali kami berhenti menunggu Enoy n Om Bongkeng sambil menikmati bintang di atas langit yang saling jatuh memunculkan keindahan, menerka-nerka apakah beberapa benda yang bergerak-gerak stabil dari kejauha n itu adalah UFO dan sejenisnya. Yang jelas, mulut ini tak henti-hentinya berucap, “Allahu Akbar… keren banget!” Malam itu Waljinah dengan seksinya menyuarakan “yen Ing Tawang Ana Lintang” dari hp mas Dhanis. Mantab pas bener nih mas suasana mencekam gini, ya… ya…

yen ing tawang ono lintang cah ayu (Ketika di langit ada bintang, Dik Sayang)
aku ngenteni tekamu (Aku menunggu kedatanganmu)
marang mego ing angkasa nimas (Pada mega di langit, Dik)
sun takokke pawartamu (Kutanyakan kabar beritamu)
janji-janji aku eling cah ayu (Janji jani aku ingat, Dik
semedhot rasaning ati (Sesak rasa di hato)
lintang-lintang ngiwi-iwi nimas (bintang-bintang itu memanggilmu, Dik)
tresnaku sundul ning ati (cintaku terendam di hati)
dek semono janjiku disekseni mego kartiko laire roso tresno asih (dahulu janjiku disaksikan langit berbintang saat rasa cinta tumbuh di hati)

yen ing tawang ono lintang cah ayu (Ketika langit sedang bebintang, adik manis)
rungokno tangis ing ati (dengarkan tangis di hati)
pinerung swaraning ratri nimas (bersamaan dengan suara malam, Dik)
ngeteni mbulan ndadari 2x (menunggu bulan purnama)


sampe satu ketika Wondo harus terhenti bersamaan mulutnya yang dari tadi “jualan” mendoan untuk membuat kami tidak panic karena sesat yang jalani. Kakinya kram dan Mas Dhanis harus melaju ke depan member shiatsu kecil-kecilan pada Wondo tersayang beserta betis tidak kerennya itu (hahahaha). Tapi sayang mas Dhanis emang terlalu bersemangat sampai-sampai beberapa meter ke trek nanjak di atas.........

Susan : “Mas. Trekking poolmu mana?”
Dhanis: Tercengang. Diem dan langsung gelisah. “Ketinggalan di tempat Wondo kram tadi, San….”

Dan mungkin karena kelelahan dan malas kembali, dia memutuskan untuk meninggalkan better-nya sambil berharap ntar ada yang bakal melewati jalur ini dan menemukannya. Wajahnya gelisah melihat salah satu kaki dari tiga kaki yang dia pakai seharian ini hilang. Dan dia hanya berjalan dengan dua kaki seperti pendaki normal lainnya. Akhirnya sesudah tidak memperdulikan trek yang kami lewati dan berhenti memanggil-manggil karena kehausan, sampai juga kaki ini di Pondokan Eyang Semar. Sesaat kami bercengkrama dengan penduduk setempat yang menempati pondokan itu. Aku baru ingat hari itu adalah Isro’ Mi’roj dan biasanya di hari besar itu, beberapa petilasan kian ramai dikunjungi orang-orang untuk menyepi di sini. Kopi hitam yang panas yang mereka suguhkan menjadi penolong kami menghangatkan badan yang makin loyo karena nyasar. Di pondok sudah tampak teman-teman yang lain. Untung jalur yang kami lewati tadi akhirnya berujung juga pada pondok Semar meskipun lebih jauh.

Sesudah mengikhlaskan better-nya dan membulatkan hati untuk berjalan dengan dua kaki, mas Dhanis dan aku berjalan lagi beriringan dengan Ella, Wondo dan Lendi menuju Makutoromo.
Sesampai di Makutoromo jam 9.30an, mas Dhanis berbisik, “San gw bangga nih bisa jalan pake dua kaki dari tempat tadi, terus ke Eyang Semar n akhirnya sampe juga di sini, Makutoromo!” Halah!!! Kukatakan padanya supaya dia makin senang jalan, “Iya mas… Bangga banget aku ngeliatnya!” Sumpah pengen ngakak.

Makutoromo??? Wuih tempatnya keren puolll. Cukup luas dengan beberapa petilasan yang mengapitnya, juga sebuah gubug yang esoknya bisa kami gunakan untuk makan sebelum meninggalkan tempat ini.
Makutoromo juga bener-bener indah ketika pagi menyapa dan jingga langit menghiasi pemandangan di luar tenda. Sunrise. But I didn’t give a damn with Sunrise at that time, nor my duty to make a hot cup of coffee for Dhanis. Perutku bergejolak karena malam sebelumnya makan banyak banget. Dan sunrise pagi itu menjadi background yang indah untuk melipiri Makutoromo sambil menikmati munculnya matahari dan semeru di depanku. Mantab banget… “Susaannn…” Kudengar mas Dhanis memanggil. Bowdow ah!!! ”Gw lagi shitting!”
Mas Dhanis juga kembali ceria karena seorang kawan HC yang menyusul kami di pagi hari juga ada yang tersesat melewati jalur yang kami lewati semalam dan tentunya menemukan better biru kaki ketiganya yang ia tinggalkan semalam.

Makutoromo – Plawangan atas (3150 Mdpl) 12 hours.
Rencananya kita akan curi start jam 7. Apa daya pecel, peyek Udang, Telor dadar sampe pisang goreng dan Burger membuat kami (aku, elly, Juan, mas Dhanis, Sinyo, Kuching dan Mas Yudi) sibuk sampai lupa kalau harus naik lagi. Halah! Perut lagi. Jadilah tim kami ini paling lelet berangkatnya dan syukurlah ketemu orang yang selama ini aku tunggu-tunggu, Om Ryco n Mila (yang kala itu dikenalin sebagai istrinya. Ketauan Milla yang asli tau rasa lo Om! Hahahaha) Dengan merekalah aku, mas Dhanis, Om Ryco dan pasukan bebeknya selalu beriringan. Weits.. jangan dikira perut-perut kami terkocok oleh tim bebek saja, tim North Face juga tanpa sadar merasuki perjalanan kami jadi makin keren, Kisut Cs komplit dengan Tante Enoy n si Om Bongkeng makin membuat perut kami terkocok-kocok. Belum lagi bertemu Blothonk, mas Sentot dan mas Ei.

Camp 2 masih jauh. Entah sudah berapa lama om Ryco mulai membuat perjalanan kami menjadi menyenangkan sekaligus menyesakkan dengan penyebutan angka ketinggian yang kami gapai melalui GPSnya. Hari makin sore dan ya…. Malampun kian gelap. Yang lain masih tersisa di belakang, Aku, mas Dhanis, Om Ryco, Mila sudah berada di persimpangan Plawangan. Sesudah berteriak-teriak akhirnya Om Ryco dan Mila berhasil ngecamp di Plawangan bersama rombongan HC, kasian banget ga ada yang keluar tenda, lelah macam apa sampai memberi arah pada orang yang sudah separoh napas saja mereka susah?? Hemmm.
Sedangkan aku dan Mas Dhanis? Kami harus menanjak lagi menggapai tempat dimana Sentot, Mas Ei, dan Mas Yudhi sudah menunggu kami dengan api unggun di sana. Dinginnya? Jangan Tanya. Tanganku sudah mati rasa, tubuh sudah siap ambruk, Trekking Pool yang kupakai sudah mulai terasa ribet maka kuberikan pada mas Dhanis supaya dia bisa jalan dengan empat kaki. Halah!

Camp site 2 ini benar-benar parah dan payah. Sebenaranya kita niat mo muncak hari itu dan menurun ke pasar setan yang memang disediakan untuk ngecamp di sana. Tapi apa daya, betis-betis ini sudah tak bisa berkompromi dengan perjalanan malam yang benar-benar gila, sehari penuh 12 jam lebih tanpa bonus dan tanpa ampun.
Ketika berhasil menggapai sentot dan mas Ei beserta api unggunnya aku langsung terdiam. Gila. Jalanannya gila! Bengis dan Kejam! Baru beberapa saat duduk kami curiga melihat Inda yang terdiam sambil menutup matanya dengan topi. Dia menangis karena kakinya sakit dan dipaksa jalan. Bisa kubayangkan jalannya benar-benar ga ada kompromi apalagi pake acara sakit kaki. Sesudah diamankan di dalam tenda kong Nanda yang sudah didirikan mas Sentot, Inda perlu dihangatkan. Aku dan Mas Ei berusaha membuatnya tenang supaya tidak terjadi hal-hal buruk karena psikisnya benar-benar down. Padahal aku juga down banget melihat jalanan seperti itu. Tak terpikirkan bagaimana Klecem, porter kami mengangkut keril berisi logistic dan lain-lain itu akan sampai di sini. Aku berharap mereka-mereka yang belum sampai ke campsite ini tidak usah ke tempat ini dan mending ngecamp di bawah Plawangan saja. Secara di sini tidak ada tempat yang pas buat ngerebahin badan. Dan ketika kudengar klecem berhasil merangkak naik aku terenyuh. Tak kuasa kutahan tangis ini melihatnya. Dalam hati kuucap syukur ternyata dia bisa melalui terjalnya jalur ini dengan bugar dan langsung mencarikan kami lapak untuk mendirikan tenda. Klecem memang mantabbbb.

Kira-kira pukul 10 malam seluruh tim pendaki sudah berada di site ngaco ini. Jangan dibayangkan kami akan tidur dengan nikmat di dalam tenda. Miring dan merosot adalah landscape yang menyambut kami semua selain hembusan angin yang kian kencang dan membuat perutku mengeluarkan angin-angin itu lewat suara thunderbolt yang menghiasi Eurekaku. “Widih… sampe bergetar gini yah..” seloroh mas dhanis yang udah mabok jenki di dalam tenda sambil nungguin teh vila anget yang kubuat untuk om Bongkeng dan tante Enoy yang baru nyampe jam 9 or 10. Aku lupa. “San masak apa? Lapar nih....” Ampuunn deh mas dhaniiisss dasar bayi gede! ngga tau apa kompor Cuma satu yang bisa diberdiriin. Udah gitu miring lagi tempatnya. Maka sesudah kusruputkan La Fonte hangat buat dia, akhirnya kami bisa ngorok agak legaan. Agak kaget juga ketika tenda kami terbuka dan Mas Ei hilang jam 2 malam. Usut punya usut ternyata mas Ei ngacir karena ketahan akar yang ia tiduri di dalam tenda. Ia bergabung dengan Sentot di atas camp site kami dan tidur di luar. Katanya sih lebih hangat. Ngga Caya!
Malam ke 2 kami juga lebih seru karena bintang-bintang di atas masih ramah menemani kami dan juga ngoroknya Blothonk family menjadi desiran mesra yang membisiki sudut-sudut lapak yang sama sekali ga cakep itu. I wonder if Kong Nanda juga begitu di atas. Sayang ga kedengaran dari tempatku tidur. Aku yakin seyakin-yakinnya trek miring ga akan membuat kalian berhenti berdendang ketika tidur. Kok ya untung mas Dhanis ga ikutan, bisa-bisa keluar dari tenda dan balik lagi ke rumah kadir deh..

“Eh San… gw bangga lo bisa ngecamp di atas 3150Mdpl!” ucap Mas Dhanis, lagi! Iya mas iya…. “Coba kalau semalam ga jalan bareng Susan, gw udah nangis tuh. Karena ada Susan aja gw nahan tangis. Ya masa laki nangis di depan cewe. “ Hahahahahahahaha ntah aku lupa dia ngaku pada siapa sampe aku menahan tawa dengar papanya Dindy curhat. Apakah dia curhat ketika kampanye terselubungnya dilakukan di kemiringan itu? Sumpah lupa!

Campsite Ngaco-Puncak Arjuna (1jam)
Jam 9 mungkin kala itu aku, Ella dan mas Dhanis mendahului tim rusuh untuk muncak ditemani panas dan debu yang bergulir memasuki hidung dan mata kami. Dan tentu saja, asap Semeru yang kian jelas menyapa kami selama perjalan juga radio RRI dhek Bara yang meramaikan suasana dengan siaran pasar modal di atas gunung. Pendakian yang indah dan aneh.
Sesudah menapaki jalur berbatu itu, akhirnya aku dan Ella mencapai puncak sejati Gunung Arjuna pukul 09.45. Alhamdulillah… akhirnya bisa juga menginjak Arjuna. Si Arjuna dengan gagahnya menyambut kami. Sesaat foto-foto sejenak. Yang ngeri adalah ketika kulihat Kong Nanda terjatuh dan terpentuk batu di puncak. Ngeri banget. Untung ada batu yang nahan dia ga jatuh. Mungkin si Engkong ini terlalu bersemangat ya. Sesi 1 jam lebih yang kami punya benar-benar kami manfaatkan. Dari pose superman, pose berbagi suami, pose nongkrong dan tentunya pose poto model dengan background yang bisa dipilih, background semeru, welirang atau blothonk!

Puncak Arjuna-Pondok Welirang
Sebenarnya malas banget turun ke Pondok Welirang, tapi karna ga mungkin lama-lama secara bisa membakar tubuh menjadi black-out maka terseok-seok kami turun.
Rute turunnya??? Wanjrotttt Berdebu, terjal dan pastinya panas. Beberapa kali kami harus menjaga jarak supaya yang belakang ngga kena imbas jejak-jejak kami yang tak tau diri itu.
Pukul 4 sore kami menuruni Lembah Kijang yang lumayan sejuk. Tergoda untuk menikmati semilir angin dan arbei-arbei hutan yang seger buat mengisi perut kami. Hem… mantab.
Di sinilah napsu biologis itu terhempaskan diantara kebun-kebun arbei. Aku melipir dengan sukses. Yes. Makasih Ela n Kong Nanda yang udah nungguin hahahahaha….

Pondok Welirang
Malam menyeruak ketika kami berlima Kong Nanda, Mas Dhanis, Ella, Dilla dan aku meninggalkan Blotonk dan anggota geng Nero memasak terong di lembah Kijang dan disambut oleh tenda-tenda kami yang sudah didirikan untuk menyambut tubuh-tubuh lelah kami. Makasih Klecem, Kucing, Sinyo, Mas Yudi. Ya di situ sudah kurencanakan memasak sayur asem ala Surabaya (tuh sayur asem yang pake krai, Mas Sentot) Meskipun tim Tante Enoy sudah masak dan dimakan habis, ternyata perut sinyo, kucing dan mas Yudi masih ada orang kelaparannya. Sayur asem habis. Mas Dhanis juga nambah makan lagi mencicipi sayur asem Surabaya (katanya) sesudah makan bubur buatan tante enoy.

Pukul 11 malam ketika mata ini sudah hampir terlelap, Kisut datang mengetuk pintu (halah pintu) tenda kami dan mengajak kami pesta dadakan, bikin sup pondok welirang (embuh harus dinamai apa, mungkin saat itu teman tidur kisut, mas Ei lapar sekali, tapi sumpah nendang banget!)
“Kita jadikan PR aja yuk Welirangnya.” Seloroh Mas Dhanis ketika dalam perjalanan menuju ke pondok welirang. Aku juga ga akan maksain jempol yang sudah mati rasa ini. Maka ketika mereka bangun pukul 3 aku hanya bangun sebentar dan said, “Semoga sukses muncak ke Welirang.” Dan ngorok lagi.
Esoknya sesudah bergaul ke tenda Om Ryco dan dapat bermacam-makan makanan (gila tuh orang-orang apa marmut ya? Masaknya banyak banget!) kami memasak buat tim pendaki yang pada naik ke welirang. Dari martabak telor, sampe tumis mercon yang pedes banget! Dan tentunya dengan cerita-cerita tanpa habis dari teh vila sampai gajah. (Wakakakakakakakkkk… Oh My Jod)

Pukul 10 lebih dikit sesudah tim pendaki berhasil turun dengan mendengus-dengus karena sukses mendapat sunrise di atas, kamipun saling berkejaran menapaki lautan debu yang kian menurun. Dari keperosot sampai meluncur yang disengaja kami jabanin. Busetttt. Dan ngga lupa, Turunan Ngakak (kenapa kusebut turunan ngakak? Karena ga ada jalan lain untuk mengeluh selain menertawakan diri sendiri sepuasnya dan kaki-kaki rapuh itu untuk menuruninya) itu makin mempererat kami sebagai pendaki yang suka santai.

Ketika sampai di pos tempat penambang-penambang itu menimbang belerang yang mereka dapat, mas Dhanis dah mulai BT dan merengut, “Kita naik hard top aja ya san. Kita nunggu di kop2an” Kuiyain aja secara lagi BT. Dan akhirnya gagal sodara. Sampai di kop-kopan kita malah makan tempe menjes dan nyruput kopi hangat di warung yang ada di sana.. rasanya?? Hemmm yang jelas tak pernah menyesal menampik jip yang menawarkan jasa untuk menuruni jalanan makadam itu menuju tretes. Ternyata kaki kita masih bisa dibikin sok canggih dan yang membuat aku berteriak adalah ketika si papanya Dindy itu nyontek jalannya Kucing yang bener-bener gila, kenceng banget! Ingat kaki weiii… jangan ikutan CatWalk!
Om Bongkeng juga keren karena meskipun ngos-ngosan masih bisa mengejar kami di bawah dengan senyum deritanya, Kong Nanda juga meskipun cedera masih bisa menjewer pahaku sampai kesakitan (awas yah) Apalagi Blotong, sepertinya perutnya benar-benar ga merepotkan untuk tetap mencelaku. Benar-benar bukan pendaki manja! Cool!! Salut sama kalian semua.
Jadi terharu biru melihatnya.
Btw, kami sampai di pos pendakian tepat ketika Adzan Maghrib bergema. Alhamdulillah…..

Credit ucapan terima kasih pada:
Team : Dhanis, Juan, Elly + Klecem n Sinyo
Tetangga sebelah : Tante Enoy, Om Bongkeng, Kisut, Mas Ei
Tetangga Depan Tenda : Kong Nanda, Mas Sentot
Tetangga Mendoan : Lendi, Wondo, Tauvic, Ella, Dilla
Tetangga Geng Nero : Blotonk, Bara, Eka
Tetangga Penggembira: Kucing, Mas Yudhi
Tetangga Jalan : Tim Bebek HC (Ryco, Mila, Asep, Riza)n Timnya Mbak Endah
Tetangga -tetannga baru yang sempat ketemu di sana yang ngga tau namanya 
Cuma satu kata untuk kalian semua, Kalian teman-teman jalan yang ngangenin Puol.... Yang ga ikut kemarin memang ga rugi, cuma kehilangan momen penambah warna hidup aja. 

Kau datang dan pergi oh begitu saja
semua kuterima apa adanya
Mata terpejam dan hati menggumam
di ruang rindu kita bertemu…


Until we meet again, Temans…

Tuesday, August 5, 2008

Ketika Putri Sibayak nyasar di Suroboyo




Kak Rahel, Si Putri Sibayak - dari milis pendaki - akhirnya bisa berputar-utar di Surabaya nan panas. Mulai dari Kebun binatang surabaya, Pantai Kenjeran, sate lesehan Dharmawangsa sampai Tempat ngopi kami di Unyil yang mantab...
Inilah gaya kami....

Monday, August 4, 2008

M.u.s.n.a.h.

Dan langkah kecil ini akhirnya harus terendap.
Untuk sebuah gemerlap hati yang dulu sempat kau tanamkan sesaat
Lalu kau ludahkan rasa yang kau singgahkan lewat kerikil nista itu
Dan aku sempat pula berharap pada kelamnya atap jagad

Lalu...
Di atas dataran sebelah mana harusnya aku memijak?
Di bumimu dan menunggumu memanggilku jika kau ingin?
Atau kuharus terpatung menunggu engkau bebas?

Memusnahkanmu sayang, kemudian menghapusmu jejakmu
Dan mencari lagi senja-senja baru yang nyaman untuk kunikmati
Ya, itu saja pilihanku..



05-08-08 : 01.42 a.m.

Wednesday, July 23, 2008

Melangkahi lagi Mahameru




Album yang egois karena hanya memunculkan gambarku dengan baju superman yang memang kusiapkan untuk dipuncak.
Sory kalo merasa kesaing :p

Dan Semeru Makin Maknyusss Saudara

Oh bukankah ku pernah melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yg lelah jiwanya


Nyaman sekali menyinyirkan bait itu secara perlahan sambil menatap gumpalan awan senja bergelembung-lembung menutupi hamparan udara di depanku di beberapa persimpangan dari Kumbolo menuju beberapa pos untuk menggapai kembali terdekat di kaki Semeru, Ranu Pani. Sejenak tertegun menatap lengkungan batas cakrawala sembari menunggu Kak Rina yang hanya beberapa langkah di belakangku. Saat itu menjelang maghrib dan aku bilang padanya, “Kalau Maghrib tiba dan cuma ada kita berdua sepanjang jalan ini, kita berhenti sejenak ya, Kak. Aku mo benerin Kasut dan menunggu kaum lelaki yang masih berkejaran di belakang itu. “ Dan tak lama kemudian mereka saling menyusul kami lagi dan saling berpapasan dengan bule-bule yang berdatangan karena penasaran dengan semburan asap di puncak Mahameru yang kami lihat tadi pagi.

Sesudahnya kami semua bermarathon ria, mengayunkan langkah lebih cepat agar tidak terlalu malam untuk tiba kembali di desa yang terkenal dengan hasil bumi bernama Kapri itu. Malam makin menyengat dan dingin kian melanda perjalanan. Beberapa kali mata ini tak sempat untuk berkonsentrasi melihat jalan di depan yang menyebabkan aku terjatuh.
Mungkin karena aku terpana oleh langit malam itu. Bukannya aku menunggu penampakan wahana berbahan metal berbentuk piring terbang ataupun cerutu yang luar biasa besarnya dengan cahaya yang sangat benderang, dengan ufonaut yang berjubah, berjenggot, dan bermata mirip ET di balik kemudinya. Aku yakin kali ini makhluk-makhluk Extraterestrial itu tak akan mengganggu pemandangan indah di langit bumi yang gemerlap dengan bintang-bintang yang tertempel sedemikian lekatnya. Saturnus kala itu berdampingan dengan satelit bumi bernama Bulan. Sangat terang pijarnya seperti halnya bintang yang benar-benar berkilau, menghibur yang lelah jiwanya, yang sedih hatinya…
Mantab memang. Ada bintang, ada mega, ada pohon palm menjulang tinggi berlatar belakang purnama. Tinggal satu yang kurang, serigala! (Halah! Ngilangin suasana romantis deh)

Semua bermula dari …….

Ada satu janji tertinggal kepada seorang kawan untuk menapaki pasir berbisik di dataran berbentuk segitiga yang tertinggi di Tanah Jawa, terucap hampir setahun yang lalu. Dan ketika kesempatan itu datang si kawan tersebut memintaku untuk menemaninya menjalajahi lagi daerah kekuasaan suku Tengger itu, aku pun mengiyakan sebagai pemenuhan atas janjiku padanya. Aku menyadari sekali bahwa fisikku kala itu tak mungkin siap dihajar dingin dan terik Ranu Pani hingga Kali Mati di bulan Juli ini. Ya, targetku hanya Kali Mati seperti yang berkali-kaliku katakan padanya, “Oke gw temanin sampai Kalimati aja deh. Gw flu nih, ga bakal mo muncak!” Deal!
Meskipun beberapa hari sebelum keberangkatan, sang kawan sempat memintaku mengurungkan niat karena kabar kesehatan yang belum membaik, aku yakin masih sanggup melajukan jemari kaki dan betis ini di sana.

Tak sia-sia langkah ini menyakin. Banyak kawan-kawan baru dari JePe dan seorang kawan dari KL yang menunggu untuk bersama-sama berdebar-debar melihat sehebat apa sih gunung ini. Dan yang membuat saya cukup terhenyak adalah kehadiran si perjaka ting-ting asal kelompencapir “Pendaki” Bang Rustam alias Cepot juga menyambut saya di malam saya datang memasuki halaman rumah Pak Laman, the truck driver di Desa Tumpang. Oh My Jod, Bang Cepoot. (Sok histeris)

Ranu Pani-Ranu Kumbolo (09-15 WIB)
Sesudah perut kami terisi telor dan mi rebus sebagai teman nasi buatan Bu Nunuk, kamipun melangkah menuju Ranu Kumbolo.
Aku dan kawanku tadi terus melaju meninggalkan cepot dan kawan-kawan. Aku sudag berusaha cukup kuat aku untuk menyamai langkah setannya, bahkan porter yang sempat di sewa Mbeng untuk membawa tenda super gedenya itu tak bisa mengiringi langkahnya. Padahal si porter yang bernama Cak Mul itu sudah menggunakan cara pemotongan kompas yang lumayan cepat. Kami baru sadar kalau ternyata si porter berada di belakang kami. Mungkin ia sempat terinspirasi oleh cerita yang aku dongengkan selama di jalan.
“Tim Teg tog waktu itu jalan malam n nyampe di Rakum Cuma 2,5 jam-an
“Oke deh kita bikin jalannya 3 jam aja yuk, biar cepet nyampe Ranu Kumbolo.” Sampernya. Hem.. Sepertinya, mulut dan kakinya bakal sepakat narget 3 jam sampai nih. Apa dia ngga ngerti kalau aku ga fit gini. Dan kubiarkan dia berjalan menjauh sampai akhirnya tak terlihat lagi olehku yang memilih berhenti sambil ngemut permen cap tangan selama beberapa menit sambil duduk di pinggir jalan berumput dan berbatako dan menunggu kawan-kawan lainnya lewat. Saat berjalan lagi tenyata si kawan tadi juga berhenti karena merasa si suara bawel yang dari tadi nemenin dia jalan, ketinggalan di belakang (hiks!). Ternyata dia masih berperikeperempuanan !

Dan semua gagal sodara-sodara! Sampai di Pos Sampah kami berhenti lama karena menunggu yang lain. Lagian ini naik gunung kan? bukan kerja MLM yang kudu cari kaki cepet-cepetan biar dapat bonus banyakan. Target nyampe Rakum cepet-cepet ga bisa dikejar karena memang kondisi siang yang cukup panas dan track yang naik turun meskipun banyak landainya. Sebenarnya kami semua akan menembak kalimati untuk bermalam di sana. Namun apa daya, atas keputusan bersama dan mempertimbangkan kondisi badan, kami semua harus buka tenda di Ranu Kumbolo dan bercumbu dengan dinginnya angin di tepi danau yang menyebabkan kami semua harus terjaga berkali-kali karena tak kuasa menghalau dingin yang terkadang menusuk tulang sampai ke relung jiwa ini.

Rakum-Kalimati (10 a.m. – 02.30 p.m.)
Panas, Debu, Terik mentari yang menyengat membuat langkah ini harus berkali-kali berhenti. Dan ah, si kawan tadi meninggalkan aku lebih jauh lagi. Dan akupun memilih berjalan dengan Om Gonjes Cs yang banyak behaha hihi menikmati jalanan berdebu naik turun yang kejam karena cahaya yang terlalu menyilaukan mata dan menghabiskan cairan di kerongkongan itu. Sekali lagi aku bersyukur ada Cepot juga di sana yang selalu mengajakku bercerita sambil curhat-curhat masa-masa percintaannya sehingga perjalanan kali itu jauh dari rasa membosankan. Ga nyangka cintanya Cepot sedalam itu. Jadi yang mirip-mirip itu Pot yang lw suka? Pot ingat Pot, itu anak kecil baru lulus sekolah. Dia baru lair, lw-nya udah ngerokok n tawuran.
Pantas kemarin di Ranu Kumbolo aku ditolak mentah-mentah di hadapan kaum JPers.
Cepot? Nolak aku? Ya mungkin ini adalah tanda-tanda zaman jahiliyah muncul lagi deh. (hahahaha… piss pis… prett)

Setiap perkataan yang menjatuhkan tak lagi ku dengar dengan sungguh
Juga tutur kata yang mencela tak lagi kucerna di dalam jiwa
Aku bukanlah seorang yang mengerti tentang kelihaian membaca hati
Aku cuma pemimpi kecil yang berangan tuk merubah nasibnya


Sore itu di Kalimati, aku bergabung memasak dengan La Fumma Group (Maksudnya teman-teman yang tinggal di kampong La Fuma tetanggaku) Di situ terkuak misteri sinar bayangan betapa kocak-kocaknya mereka. Ayu, Uchit dan aku berebut menjadi pembantu. Dan Bang Arief Cuma ngasih instruksi ini itu ajah. Dasar mandor! Tovic dan mas Wahyu? Bagian icip-icip deh.
Sore menjelang malam, 3 sosok laki-laki sok ganteng itu benar-benar menyusul kami. Yup, Kohan, Arief n Pramono mendapat sambutan kemeriahan dari kami yang sudah bersiap-siap istirahat. Edan tenan! Surabaya-Malang-Ranu Pani-Ranu Kumbolo-Kalimati dikebut dalam waktu sehari itu juga?

Sebelum istirahat, sekali lagi kawan tadi menanyaiku, “Yakin mo muncak? Ga usah deh kalo masih sakit.”
Masih ragu, aku menjawab antara iya n ngga. “Lihat-lihat dulu deh, ntar kalo enakan muncak, kalo nggak ya aku tunggu di sini aja.”
“Ya kalau emang mau naik, niatin!” Katanya. Nendang banget!

Malam ketika akan mencoba menutup mata untuk saving energy nanti waktu summit assault, kami kesulitan tidur apalagi mendengar Andri yang ber-Kalimati Idol dengan Kohan Cs di sana. Woyyyyyyy tidurrrr. Ntar lagi summit nih!

Summit Assault 11 p.m. – 05.30 a.m.
Dan Ya.. Malam itu juga aku niatin menapaki lagi pasirnya, mencumbui lagi anginnya dan saling berebutan oksigen lagi dengan tumbuh-tumbuhan di sekitar kami. Beriringan langkah kami. Sempat muntah sebelum menginjak Kelik yang akhirnya membuatku merasa lebih lega.
Arakan limpahan kawan tadi cukup membantuku menahan beban tiap kali melangkah menyusuri jejak para penjelajah yang ada di depanku. Di sampingku beriringan Bang Arief Yk n Dimas (asyikkk ada jomblo-jomblo di dekatku wakakakakak)

Bukan lagi makanan yang ada di otakku. Bukan lagi soal siapa yang akan aku kasih congratulation kiss nanti ketika sampai di atas. Bukan lagi harus berkejaran dengan purnama yang akan terbenam dan matahari yang akan terbit. Hanya niat dan konsentrasi akan titian, tanjakan keras yang panjangnya seperti tiada akhir yang membuatku melangkah tanpa henti Ia seperti perjalanan hidupku yang sampai sekarang belum menemukan tambatan untuk berlabuh. Dan pasirnya menimbulkan perih. Seperih hati yang tak lekang oleh badai. Namun semua harus dilalui agar harapan itu terenggut.

Ku gerak kan langkah kaki
Dimana cinta akan bertumbuh
Kulayangkan jauh mata memandang
Tuk melanjutkan mimpi yang terputus
Masih kucoba.. mengejar rinduku
Meski peluh membasahi tanah
Letih, penat tak menghalangiku
Tuk temukan bahagia


Dalam komat kamit hitungan angka satu hingga seratus, seratus hingga dua ratus, aku berjalan tanpa menghiraukan debu yang menyesakkan dan penat yang melanda.
Terkadang lelah, kantuk dan malas menyergap, menahanku untuk berhenti sejenak dan merasakan semilir keras angin Sang Kuasa.
“Mas henti dulu yuk di batu besar itu.” Kataku ke Bang Arief.
Headlamp kumatikan karena cukup terang cahaya purnama kala itu. Tiba-tiba Nurul, Tovic dan Mas Wahyu yang ada di atas kami berteriak. “Awas… batuuuuuu.. batuuuu..”
Aku mendongak ke atas, busyet!!!!! batu besar yang cukup bisa menghepaskan tubuh hingga terpelanting itu segaris dengan arahku. Aku melompot dengan kekuatan penuh ke arah kanan karena pasirnya lumayan berat, aku hanya berhasil mengalihkan selangkah ke arah kanan, dan batu besar itu berhasil melintas pada detik aku berhasil pindah jalur yang hanya beberapa centimeter dari jarakku sebelumnya. Pada garis di mana batu itu melintas. Nyawaku masih terselamatkan. Bang Arief yang tadi ada di belakangku pas, terlihat beberapa meter meloncat di sebelah kananku. Ia berhasil mengayuhkan tubuhnya lebih jauh dari aku. Dimas, aku dan Bang Arief hanya saling melihat, tertegun. Rasa kantuk itu hilang seketika berganti dengan dag dig dug di dalam dada. Mengucap syukur sedalam-dalamnya pada limpahanNya karena masih di beri keselamatan daripada terhempas oleh batu segede itu. Ternyata Engkau masih merestuiku hidup lebih lama lagi, ya Allah.. Terima Kasih...

Sesudahnya kami berjalan beriringan terus-terusan, tiap kali akan menginjak batu kami akan berhati-hati sekali untuk menjadikannya sandaran kaki. Sudah tak berani untuk berhenti lama-lama. Cukup menghela napas panjang saja tuk bersiap berlari kembali, melangkahkan kaki.

Bukankah hidup ada perhentian
Tak harus kencang terus berlari
Kuhela kan nafas panjang
Tuk siap berlari kembali


Dan saat itu 5.30 pagi ketika beberapa teman sudah berada di puncak dan menikmati poto-poto dengan sunrise, aku melangkahi lagi puncak Mahameru. Tak ada yang menyambutku seperti tahun lalu ketika bersama ketiga orang temanku. Dan aku tak butuh disambut. Air mata ini masih menetes perlahan menikmati semilir dan batu-batu hasil semburan asap jonggring Saloka. Gontai aku melangkah sambil menghapus tangis kecil itu.
Allahu Akbar, Subhanallah, Walhamdulillah.. Aku masih bisa menjejakkan lagi langkah kecil ini.

Ya, sakit bukan halangan. Kalau sudah diniati semua akan berhasil. Fisik lemah bukan alasan untuk melewatkanmu dan mental yang “dibaja-bajain” mungkin lebih berarti untuk menapakimu, Mahameruku….

Dan kami berfoto-foto di sana, aku sempat berteriak beberapa kali saking gembiranya berada di puncak itu lagi, meskipun dingin menyerang dan hembusan itu seolah-seolah akan merobohkan kami. Yang jelas Asap dari Jonggrang Saloka masih menjadi misteri yang membuat kami ingin dan ingin lagi melihatnya, mau dan mau lagi mendengar dentumnya.
Berturut-turut, kawanku itu menyusul kami di puncak. Dan tentu saja Cepot yang berhasil menebus keinginannya menapaki Semeru, akhirnya terkabul juga pagi itu. Ada sosok lucu yang berhasil menembus ganasnya pasir itu, Andri yang chubby itu pun berhasil sujud syukur di sana.
Sewaktu turun terlihat Ayu terpekur di bawah, hanya 200 meter menuju puncak. Nyalinya menciut melihat kami pada turun. Tapi dengan semangat yang kami siramkan padanya, akhirnya ia berhasil menggapai mahameru juga. Syukurlah…
Dan Mahameru makin Mak Nyusssss, sodara…..


Sepanjang jalan Ranupani – Tumpang, Mahameru tak henti-hentinya menghantarkan kami dengan letupan-letupan yang muncrat tanpa henti dan membuat kami beberapa kali meminta Gianto sang sopir Jeep untuk berhenti memberi kami kesempatan mengabadikannya lagi dan lagi. Ia seakan tak rela jika kaki-kaki manis kami pulang ke peradaban di mana kami berasal. Ah mungkinkah dia kesepian di sana…

Matur thank you
buat semua kawan dari kaum JPers.
Om Gonjess yang banyak share ilmu, Bang Arief Yk yang berada di sampingku selama menapaki pasir berbisikNya, juga mas Dimas, Tovic dan Nurul yang menyenangkan, Ayu yang hebat bisa ngalahin ciutnya nyali yang akhirnya bisa membawamu ke atas, Uchit yang berondong dah jangan patah hati mulu hahahaha, Faris yang imut, n Andri yang selalu menyanyi sepanjang jalan. Kapan-kapan temenin naik gunung di Jateng ya. Juga romobongan three musketeer, next time, gabunglah ma manusia-manusia ini. Hehehehe.. makasih buat sumbangan malaikat bersayapnya

Teman-teman Jatim Explore, Mbeng n Sinyo yang tetap lucu dan menyenangkan. Mbeng.. bosen aku. Tapi ya kadang kangen. Haahaha
Kak Rhina.. ga rugi kan jauh-jauh datang dari Kuala Lumpur dan akhirnya bisa melihat semeru?
Hero aduh sempat kelupaan. Cepet lulus jangan naik gunung mulu. Hehehehe... Kapan-kapan naik gunung bareng ya :D


Kohan, Mas Arief, n Pram yang nyusul karena pengen banget gabung ma kita-kita di atas. Kohan sory ya… ga bisa bikinin kamu Vanilla Latte di Rakum. La ketemunya di Kalimati, airnya susah tau. Hehehehe…

Bang Cepot yang akhirnya menapaki pasir itu, duh... ga nyangka bang cepot sanggup. Beneran nih aku ditolak? Ngga nyesal nolak aku? Jarang-jarang lo aku nawarin hahahahaah.... Btw, tendanya bow.... TFN, Eureka, Mountain Hardware lewat deh. Salut ma tuh tenda. Mau aja dipermak sana sini ma pemiliknya. Tapi tetep aja tembus. xixixixi...

Buluk, kawan mendakiku yang paling keren yang akan selalu meninggalkan aku jauh sekali tapi akan selalu berhenti dan menunggu tanpa kuminta. Kawan mendaki yang ga pernah protes ketika aku bawel, gondok ataupun sakit.

Sahabat adalah dia yang menghampiri ketika seluruh dunia menjauh..karena persahabatan bagaikan tangan dengan mata. Saat tangan terluka, mata menangis. Saat mata menangis, tangan menghapusnya

Dan pada bintang-bintang di kaki langit Mahameru,
Kutitipkan pesan ini.


Jangan pernah memintaku melupakan kisah itu. Namun beri aku jiwa baru untuk tetap berjalan dengan nyaman dan goresan senyum yang akan menguatkan langkah kecil ini seperti kala fajar itu ketika damaiku menyapa tanpa tangis saat melihat purnamaMu terbenam…


Thanks to PADI untuk inspiring OST maya-nya “Sang Penghibur”
Perfect song to move again.

Monday, July 21, 2008

Before Sunset in Bandung




Evening of July 7th 2008, I saw gorgeous sky during my coming back from Pasar Induk Gede Bage in Bandung. The sky was great, it tempted me to frame it.

Sunrise in Kenjeran




After almost 27 years living near the beach area, it was the first time for me to see the sunrise in Kenji.