Tuesday, July 6, 2010

Homework : Reading!

Alhamdulillah, 
banyak sekali hal-hal berat yang bisa gw selesein Juli ini. 
Pertama, kerjaan berat mengirimkan 700 kiloan buku dan peralatan lain untuk acara di Ngadulanggi, Sumba Timur sudah terkirim.
Kedua, cuti gw buat ke Ngadulanggi akhirnya diapprove. Dan gw terharu sekali dengan bijaksananya bos gw memutuskan untuk menyetujui di tengah kekhawatiran menejer gw akan kealpaan gw nanti. Semoga semua berjalan sesuai rencana baik di Ngdulanggi nanti maupun di Jakarta nanti, Semoga juga gw bisa kembali dengan selamat di kantor gw tercinta. Amin. 
Ketiga, tagihan CC dan cicilan gw dah habis bulan ini. Artinya bulan depan gw dah bebas hutang. Sudah bebas menabung lagi. Sudah bisa mulai menata masa depan tanpa beban.

Keempat, sudah mulai bisa mencicil menyelesaikan PR-PR yang belum beres. Apa aja tuh? 

Well, PR pertama gw kudu beresin rumah abah tempat pooling buku-buku 1n3b sebelum dikirim kemarin, yang artinya gw kudu mengirimkan beberapa buku-buku buat perpus lain yang udah didirikan komunitas 1n3b sebelumnya serta memberikan beberapa buku-buku yang pas buat beberapa perpus yang membutuhkan di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Juga mendata dan memotret buku-buku seken buat dijual online supaya bisa dibelikan buku baru buat anak-anak di Ngadulanggi.

PR kedua, MEMBACA. Iya membaca. Selama ini banyak sekali buku-buk
u yang tertata dengan manisnya di rak buku gw yang minimalis itu tapi belum sempat gw telaah lebih dalam lagi. Iya gw sadar gw terlalu sibuk dengan hal-hal lain. Tapi janji, buku-buku itu sudah harus gw baca (at least) this year. 
Apa aja sih? Iseng gw data semua, jadilah daftar PR membaca gw antara lain buku-buku yang berjudul : 

1. Kisah Langit Merah by Bubin Lantang yang dari dulu belum beres
2.Tuesday with Morrie by Mitch Albom (dari DJ) tinggal 1/4nya saja
3. Larung by Ayu Utami (dari Boss gw) ini kudu gw baca karna gw penasaran apa sih isinya. 
4. Tea For Two by Clara Ng (belom gw sentuh sama sekali)
5. Mendaki Gunung: sebuah tantangan petualangan by Norman Edwin... aduh maap masih sampai hal 59, pasti gw baca :) 
6. The Remain of the Days by Kazuo Ishiguro 
7. Audio Books "Wish you well" by David Baldacci (dari DJ) baru 1 kaset yang gw dengerin. Sisa 3 kaset lagi.. semangat8. The Magic of Tea by HP Melati .. kurang separohnya...
9. Into the Wild by John Krakauer... (dari Yoyon) :D gw bikinin resensinya kalau gw beres bacanya, ntar gw tag, okayyy heheheheh...
10. 2 seri Judy Moody (dari Tychan) yang belum habis juga gw baca... hiks..
11. The Little Prince (dari Tante Agoy Yoga) aduhhh belum kesentuh juga.. hiks
12. Chicken with Plums by Marjane Satrapi (dari DJ) ini buku bagus harus dibaca
13. Midah by PAT 
14. Bumi Manusia by PAT

Yah.. ini lah alasan kenapa gw mutusin ga ke pesta buku taon ini. Terlalu banyak PR buat gw... :D

Monday, June 28, 2010

Minggu Pagi Di Victoria Park

Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Drama
Film yang sudah lama sekali saya tonton namun sayang sekali jika reviewnya hanya tersimpan di draft..

*****************
Yang ada di benak saya sebelum menonton Minggu Pagi di Victoria Park (MPdVP) adalah film dengan bumbu penderitaan TKW TKW Indonesia yang berada dalam siksaan macam pemerkosaan, punggung perempuan yang penuh cap setrika atau muka yang disilet-silet oleh majikan psikopat.

Tapi ternyata tidak, film MPdVP dibuka dengan alur maju mundur dimana Mayang yang diperankan oleh Lola Amaria sedang berada di tempat penampungan PJTKI sebelum ia diberangkatkan menuju Hong Kong. Ia sebenarnya dipaksa bapaknyamenjadi TKW untuk mencari adiknya Sekar (Titi Syuman) yang sudah menjadi TKW terlebih dahulu di negara bekas kekuasaan Inggris tersebut.

Kemudian diceritakan bahwa sekar sebenarnya sedang dalam keadaan berhutang pada sebuah perusahaan rentenir khusus para TKI dengan bunga yang gila gilaan dan karenanya ia harus melunasi hutang-hutangnya dengan berbagai cara termasuk menjual diri.

Sang kakak, Mayang yang akhirmya mengetahui hal tersebut mau tak mau harus berusaha menyingkirkan rasa "benci"nya selama ini dan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan adiknya.

Film yang masa pembuatannya ini berjalan selama 2 tahun ini, cukup ciamik membuat para penonton makin mengerti akan apa yang sebenarnya terjadi di dunia per-TKW-an di luar sana.
Victoria Park sendiri adalah sebuah taman di Hong Kong yang selalu ramai dikunjungi para TKW untuk berkumpul dan saling bertukar cerita. Bagaimana para pahlawan devisa tersebut salng menceritakan majikan, pekerjaan hingga membentuk perserikatan yang membuat mereka makin solid. Dari perserikatan ini pula Mayang mengetahui keberadaan Sekar dan secara beramai ramai bersama beberapa teman TKW lainnyapun saling membantu menemukan adiknya tadi.
Bukan hanya itu gambaran bagaimana para TKW itu mencari cinta di negeri orangternyata bermacam macam dan unik. Ada seorang TKW yang rela memberikan hartanya demi sorang playboy arab. Atau cerita cinta sesama jenis yang berakhir tragis.
Di Victoria Park juga sering diadakan konser dimana para pemusik dalam negeri didatangkan untuk menghibur para TKW di sana. Pastinya hal tersebut disambut dengan antusiasme yang cukup tinggi sebagai pelepas rindu mereka akan tanah air.

Lola Amaria ternyata mampu menunjukkan kualitasnya sebagai sutradara plus pemain berkelas. Ekspresi datar dan logat jawanya tidak terkesan dibuat buat. Pun aksi para pemain pendukung lainnya patut diacungi jempol.
Awal pemutarannya di Jakarta, film ini tidak menunjukkan respon positif karena hanya sedikit orang yang tertarik dengan film Indonesia. Namun sesudah muncul review kanan kiri, akhirnya pihak bioskoppun trial kembali dan memberi kesempatan pada para penonton untuk menontonnya meskipun hanya di bioskop bioskop tersetentu.
Saya yang awam akan film terutama film Indonesia (dan seringnya tidak tertarik untuk menonton) akhirnya harus beberapa kali larut dalam tangisan saat beberapa adegan yang menyentuh disuguhkan, And guess what? Tepukan dari para penonton lainpun ikut membahana seusai film diputar. Hebat bukan?


Well, now I'm hunting the DVD for my collection.

Thursday, June 3, 2010

BUS AKAP

"Permisi mas... maap mas saya telat. saya mau tuker ini dengan tiket."
Petugas agen bis pinggir jalan itu kebingungan dan mendadak kaget dengan kehadiran saya di depannya yang "ujug-ujug" dengan muka terburu-buru dan langsung menyerahkan selembar kertas putih tanda buking tempat duduk sebuah bis malam yang saat itu menyediakan layanan keberangkatan pagi.
"Waduh mbak. Mbaknya telat. Sudah jam setengah delapan tadi loh berangkatnya."
Kecut. Muka saya kecut sekali.
Seorang petugas lainnya datang dan mengecek bukti buking tersebut di tangan saya seolah tak percaya bahwa saya bisa setelat itu. Jam setengan sembilan, artinya sejam terlambat dari jadwal pemberangkatan.
"Wah mbak. Ini kan Sumber Alam"
"La??? emang ini apa?"
"Ini Sinar Jaya, mbak!"
Muka saya diam dan sedikit senyum sambil menilik kembali kertas di genggaman, lalu menoleh ke teman di belakang saya yang ikutan mengantar. Sepertinya muka saya bukan merah lagi karena malu, mungkin sudah menjingga dan sedikit kekuning-kuningan. Dari tadi saya menyebut Sinar jaya sebagai nama bus yang akan saya tumpangi.
Sesudah meminta maaf dan mengucapkan terima kasih, saya dan teman saya dibantu dua ojek mengantarkan kami ngebut ke agen bis yang dituju tersebut.
Saya harus sudah ada di Jakarta malam ini, biar besok tidak "nabiyak-nabiyak " waktu bekerja kembali seusai liburan singkat ini.
Dan sayapun menemukan pool Sumber Alam dan disambut dengan muka agak judes petugasnya yang mengatakan bahwa saya sudah telat setengah jam. Dengan alasan apapun pada akhirnya saya menerima kesalahan atas keterlambatan itu dan hanya mengiyakan saat petugasnya berucap, "Mbaknya harus balik ke Pantok buat menukarkan tiket untuk perjalanan nanti malam, tapi kalau mbaknya mau uangnya balik, ya tiketnya hangus."

Pantok kira-kira 30 menit dari Kutoarjo, tempat pool bis Sumber Alam berada.
Seandainya tiket bus bisa diuangkan, saya sudah berniat melompat dari bis satu ke bis lain menuju Purwokerto atau ke Cirebon dan menumpangi Cirex menuju Jakarta siang itu, akan tetapi jika memang kondisinya demikian, maka mau tidak mau saya harus kembali ke Pantok, lalu menuju ke rumah Arif lagi di dekat SD Pelipir (somewhere in Purworejo) dan tidur sebentar di sana hingga pukul tiga sore dan kembali lagi ke Pantok menuju Jakarta dan esok subuh akan tiba kembali di kamar yang kurindukan. Yah apa boleh buat...

Tau tidak membeli tiket bis melalui agen bus kecil bisa menjadi ribet jika ketinggalan bus seperti saya. Saya perlu kembali ke tempat pembelian tiket bus (baca agen bus) untuk mengurus administrasi dan lain-lainnya. Akan tetapi saya (yang katrok dalam hal begini) memperoleh ilmu baru tentang naik bus malam yang kebanyakan mengangkut pemudik-pemudik kota kecil ke Jakarta dan sebaliknya tersebut.

Pertama, saya harus booking dan langsung membayar harga tiketnya serta memperoleh kertas booking berisi nama, dan nomer tempat duduk.
Kedua saya harus berada di kantor agen tempat saya membeli tiket bus, maximal 30 menit sebelum bis berangkat.
Ketiga, Sesampai di sana saya harus menukar kertas bukingan dengan tiket, tapi tidak secepat itu jika penumpangnya banyak, mau tidak mau saya harus menunggu hingga nama saya dipanggil dan bisa naik feeder bus menuju pool bus.
Keempat, sesampai di pool bus, saya harus mencari-cari bis yang akan mengangkut saya berdasarkan nomer bis yang tertera di tiket tersebut. Saat itu adalah high season, dan pemandangan di depan saya sempat membuat saya bingung karena busnya banyak sekali.
Kelima, untuk menghindari kebosanan karena kemacetan di jalan (apalagi jika perjalanan dilakukan pada saat high season bisa dibayangkan bagaimana macetnya), saya harus meminum obat anti mabok supaya tertidur agak pulas selama perjalanan plus kaos kaki dan kaos tangan dan jaket (pastinya) supaya bisa nyenyak tidur di jalan. Dengan demikian perjalanan jauh dengan menggunakan bus tidak akan terasa menjadi perjalanan yang menyiksa dan membosankan....

Have a nice long distance trip with bus...

When you are a black-listed body

Pernah tidak dibenci dan diblack list sekelompok orang?
Saya belum pernah. Seumur saya hidup dari saya kecil sampai saya lulus kuliah dan bekerja  saya tidak pernah berada di lingkaran dendam kesumat ala kurawa melawan pandawa. Saya selalu masuk "genk" yang selalu dinantikan kehadirannya di setiap acara kantor, acara sekolah dan acara lain yang menyenangkan.

Sampai satu hari saya mendapat cerita super lengkap tentang betapa bencinya secuil kawan yang ternyata (mungkin) bencinya amit-amit dan naudzubillah pada saya.
"Sampai si X dibilangin kalo dia boleh berkawan sama temen cewe manapun tapi jangan ma Susan."
Hiks...kalau saja waktu itu saya sedang minum, maka saya akan menyemburkan minuman itu di layar monitor dan langsung tertawa terbahak-bahak.
"Itu Susan gw apa yang lain..?" Saya mencoba mencari jawab.

Setau saya, saya tidak pernah sekalipun menyakiti secuil orang-orang itu dan kenapa tiba-tiba muncul cerita seperti itu yang jika dicocokkan dengan sikap mereka pada saya makin yakin bahwa susan yang itu adalah saya. hiks... lucu.

Seingat saya, saya cuma pernah beradu mulut dengan satu orang teman perempuan di kelas waktu masih sekolah karena si teman tadi merasa diperlakukan tidak sepadan oleh guru-guru di sekolah dan akhirnya membuat kegiatan super menjengkelkan di mata saya kemudian keluarlah hardikan yang membuatnya diam tak berkutik dan senyuman puas dari teman-teman lain karena akhirnya ada yang membuatnya diam. Cuma dengan satu perempuan, selebihnya pertempuran fisik dengan teman-teman laki-laki yang membuat saya kekal dikenang dengan sebutan "tomboy".

Dan sekarang, di ibukota yang menjemukan dengan pertemanan yang dibuat "sok kekeluargaan" ini saya menjadi salah satu (mungkin salah satu) "musuh" yang (mungkin lagi) memuakkan untuk dilihat tingkahnya karena (mungkin) kecentilan saya di mata mereka.
Damn! Sial sekali saya diciptakan dengan kemampuan suka ngomong, baik, suka bergaul dengan banyak orang, suka numpang masak di gunung, periang, dan baik serta tidak sombong (silahkan muntah yang baca :p)
 
"hahahaha... mereka kalah populer kaleee ma lw yang cuma sebiji!"
Celetuk seseorang yang saya lapori tentang hal lucu ini.
he he he...

Hemmm ya ya ya... Mungkin benar, jangan berteman dengan saya bisa mempengaruhi otak dan mengganggu pemandangan sodara-sodara semuanya.
Anyway, selama ini jika ada perkataan dan sikap saya yang kurang berkenan di hati sodara-sodara mohon dimaapken meskipun saya tidak tau salah saya ada di paragraf mana, dan tidak perlulah menyuruh orang lain untuk tidak berkawan dengan saya, cepat atau lambat mereka sendirilah yang bisa memutuskan untuk berkawan atau memusuhi saya.
Tau tidak, membunuh karakter seseorang setau saya, tidak ada gunanya loh, bikin cape hati...



Its not easy love but you've got friends you can trust
Friends will be friends
When you're in need of love they give you care and attention
Friends will be friends
When you're through with life and all hope is lost
Hold out your hands cos friends will be friends right till the end
(Queen - Friends will be friends..)


Wednesday, May 26, 2010

Sumbing in Silent

Di awal perjalanan di bawah bulan purnama Ema mengutip kata-kata yang dia dapat dari milis Kisunda. Kira-kira begini kata-katanya “Terkadang jalan yang lurus-lurus saja itu bukanlah jalan yang indah. Coba berbelok sedikit, pasti akan lebih berwarna.” Dan kamipun berbelok ke kanan ke arah jalan yang antah berantah....

Mungkin itu adalah doa kecil yang didengar para bidadari dan pelantun malam yang tak kasat mata di sekeliling kami. Sehingga meskipun beberapa kali saya bertanya pada ketiga lelaki yang mendampingi kami, puncak gunung itu takk juga terlihat.
Itu adalah malam pertama kami memulai perjalanan dan mendirikan tenda somewhere only we know...

"Wondo, kok ga ketemu Pestan? "
"Lend, mana watu kotaknya? Yang itu puncak bukan sih?" Saya dan Ema berkali-kali bertanya tentang tempat tempat terkenal di seputaran Sumbing yang baru saya dengar setelah dijelaskan Lendi semalam. Dan sekali lagi jawabannya tidak menggembirakan, "bukan mbak... itu lo puncaknya di balik bukit yang itu." Jawabnya.

Lambat laun kami sadar, ini bukan jalur yang dikehendaki. Semak-semaknya terlalu tinggi dan ada punggungan panjang di samping kiri kita yang kelihatannya lebih bagus dan tidak serapat ini.

"Woiiiiiiii Salah.. salah jalurrr..." Kata suara di seberang kami. saat kami berlima berleha-leha menikmati semilir lembah di balik pohon sambil memasak makan siang di istirahat siang itu. Itu adalah hari kedua kami. Seharusnya tidak lebih dari ini. Seharusnya siang kedua itu kami sudah meraih puncak Sumbing sesuai jadwal yang sudah kami perkirakan beberapa hari sebelumnya dan nanti malam sudah menuju Sindoro.
Bukan malah diantara bukui-bukit berangin dan semak tinggi macam ini.

Satu waktu Wondo bertanya ke saya tentang sekelebatan sosok yang saya lihat turun di hari pertama kami mendirikan tenda.
"Sue, kok gak kamu panggil saja orangnya dan tanya jalur yang benar?"
"Hehehe... kirain kalian melihat. makanya aku diam saja."
Hemm ternyata pagi itu tak satupun diantara mereka tau bahwa ada yang begitu cepatnya lewat menurun saat kami sibuk menggoreng mendoan. Mungkin ia ingin mengisyaratkan bahwa kami salah jalur.
Namun kentang. kami menganggap perjalanan sudah lebih dari separoh dan nanggung sekali untuk kembali.
Di atas semak semak luas antah berantah itu saya merasakan kantuk, lapar dan haus tapi tetap menikmati perjalanan itu. Wondo tak henti-hentinya menghibur hati dua perempuan nyasar ini dengan lagu-lagu parodi yang khusus dia persembahkan di perjalanan panjang kami menuju puncak Sumbing yang tak sampai-sampai itu.

Hari kedua kami harus mendirikan tenda lagi karena hujan mulai mengguyur dan hari sudah menjelang malam. Berlima kami keruntelan lagi dalam tenda yang sedikit over capacity tersebut, di balik tebing (again) somewhere only we might know dan masih di seputaran sumbing dan sekitarnya....

Keesokannya, subuh kami bergegas lagi melanjutkan perjalanan. Puncak sumbing dan hanya puncak sumbing. Headlamp sudah digunakan untuk summit attack.
"Hem syukurlah sudah hampir di puncak, pasti bisa dapat sunrise." saya membayangkan sunrise seperti di Mahameru. Dan ah saya berjalan giat sekali. Bahkan beberapa kali ema meminta saya menunggu, saya agak sedikit congkak berkata, "puncaknya udah dekat ceu... sebentar lagi sunrise... ayo... "
Dan ternyata sodara sodara sepersumbingan... sampai headlampkami sudah saling dimatikan, dan matahari sudah mulai mebayang-bayangi bukit besar di sekitar kami, Puncaknya masih jauah di mato.

Jauh sekali. bahkan belum terlihat dengan jelas. Yang jelas hanya tanah gembur yang kami injak dan sebuah tebing yang kami kira puncak, dan di samping kiri kami jauh di sana adalah jalur yang asli.
Sejak itu kira-kira 275% lebih kami yakin kami menapaki jalur dummy alias palsu. Sempat kami berlima berhenti saking capenya menerjal dan ngos ngosan dengan kekurangan air dan hanya bisa saling melihat satu sama lain sambil kadang tersenyum tidak mesra.

"Wondo... aku haus dan lapar." menurut mereka saya pucat. Tapi kurang jelas pucat pasi atau makin putih kulitnya karena di tempat yang dingin gini gosipnya seseorang makin terlihat putih. Jadi ucapan mereka membuat saya terhibur (sedikit) karena itu menandakan saya jadi agak putihan ketika naik ke Sumbing. (beuhhhh mulai rasis oriented!)


Hanya ada susu dan roti tawar, wondo mengeluarkan sisa sisa makanan di dalam kerilnya. Tidak membuat enak malah eneg tapi disyukuri lah, setidaknya usus 12 jari saya tidak bawel bawel sekali karena tidak ada kerjaan sepanjang pagi hingga siang itu.

Kira-kira pukul 10 pagi kami menemukan tebing tingi yang masih basah. (tuh kan bener-bener gak kebagian sunrise) Ketiga laki-laki kami berinisiatif menampung tetesan air dari tebing supaya bisa kami minum dan membiarkan saya dan Ema menjalani ritual kami, menjadi fotografer dan model tetapnya.
Lalu sampai tertidur sejenak menunggui air supaya botol kami terisi lalu melanjutkan perjalanan kembali.
Hampir satu jam kami menanjak lagi disertai adegan-adegan film India (bernyanyi dan bergandengan tangan, minus tarian) saking lelahnya mencapai puncak Sumbing dengan energi yang sumbang.
Akhirnya tepat pukul 12 kami bersama-sama di Puncak dengan pemandangan bluesky (bukan merk hair-dryer neeh) dan kawah Sumbing . Hanya ada tomat dan beberapa batang cokelat yang menemani kami di puncak tapi kami puas.

Kemudian kamipun bersorak sedikit mesra ketika di perjalanan turun kami menemukan air di dekat Pestan dan tetap ditemani Wondo dengan lagu-lagu Parodi buatannya...

Ah tiga hari yang menyenangkan bersama kalian... Wondo, Lendi, Asep dan my beloved sista Ema.
Meskipun sok silen (baca si-len) dan nyasar, toh kitapun nyampe puncak Sumbing and went down happily ever after.....

Tuesday, May 18, 2010

picky picky

She: Jadi sekarang Susan pacarnya siapa?
Me  : Hehe Belum ada kaleee..
She : Loh di sini kan banyak?
Me  : Emmmmm .... Banyak sihhh tapi emang ada yang mau?
She : Kamu terlalu picky kali ya?
Me  : Mereka kalee yang terlalu picky
She : Hahahahhaa...
Me  : Padahal udah gw sale loh mbak. Kalau beli PIN berhadiah yang jualan.;))))))
She : Bhuahahahhahahaha....

*And she took an orange pouch as I pushed her a bit to buy some souvenir to donate some friends in a remote area of East Sumba. Certainly, What I replied was JUST a joke to remind her that I'm a joker... :))

02052010

r.a.w.o.n.

Diantara ketiga nama yang kusebut tadi, kukira engkau cukup mengerti mana yang dagingnya paling pantas untuk kucincang buat ditambahkan ke dalam rawon drakula....

Tapi aku tidak akan memakannya, karena ternyata lebih haram daripada celeng hutan yang mengintai di balik rerimbunan pohon tiap kali kakiku melintas savanah....

Itu sajah.