Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts

Sunday, October 24, 2010

Surat Kepada Hujan

Aku ke sana lagi Rain,

Ke Sukamantri. Sudah 3 tahun lebih berlalu, dan masih sama jejak itu. Jalanan, portal, dan pemandangannya masih seperti saat pertama kali aku menyapa tanah basah yang bersebelahan dengan lahan tapos milik mantan penguasa negeri ini. 
Samar-samar aku mengenang di mana pertama kali aku dan dia menapaki bukit itu. Meskipun di waktu berikutnya dia melepeh seluruh kenangan kami, namun tidak lagi aku mengutuknya.

Rain, harusnya kemarin aku tertawa bersama kawan-kawan setiaku itu. Aku sadar, aku sudah tidak lagi sepadan dengan pembahasan mereka kecuali kenangan bodoh yang kami urut satu persatu dengan tawa. namun harusnya itu bukan masalah kan, Rain? Memang tidak bermasalah sama sekali.

Namun entah kenapa rencana untuk tergelak tanpa henti itu menjadi naik turun seperti kincir raksasa di Dufan yang pernah membuatku takut bukan kepalang itu.
Aku sedih Rain, sedih mengingat sebuah cerita singkat yang manis di awal, namun getir sekali di akhir .

Tiba-tiba rain, otakku tidak bersinergi dengan Sukamantri dan hujannya dan semua gurau di sekitarku. Tiba-tiba sakit itu terasa sekali, rain. 
Semua cerita kami terputar tanpa remote di monitor maya kepalaku. Jangan bertanya seperti apa. Mungkin mirip dengan luka yang hampir mengering tapi tanpa sengaja terciprat air laut.. Perih luar biasa dan membuatku takut berada di sana. 

Buitenzorg sore itu bising oleh hujan dan aku sama sekali tidak menikmati lagi percikan gerimis di luar jendela mobil kami. Aku ingin segera pergi dari kota kecil itu dan tak akan melangkah lagi ke semua tempat yang mengharuskanku singgah di situ, rain.
Rain, aku tidak ingin mengingatnya lagi. Tidak untuk menyimpannya juga di memori diamku. 
Aku membenci Buitenzorg seperti aku membencinya....

______
12122012

Thursday, June 3, 2010

BUS AKAP

"Permisi mas... maap mas saya telat. saya mau tuker ini dengan tiket."
Petugas agen bis pinggir jalan itu kebingungan dan mendadak kaget dengan kehadiran saya di depannya yang "ujug-ujug" dengan muka terburu-buru dan langsung menyerahkan selembar kertas putih tanda buking tempat duduk sebuah bis malam yang saat itu menyediakan layanan keberangkatan pagi.
"Waduh mbak. Mbaknya telat. Sudah jam setengah delapan tadi loh berangkatnya."
Kecut. Muka saya kecut sekali.
Seorang petugas lainnya datang dan mengecek bukti buking tersebut di tangan saya seolah tak percaya bahwa saya bisa setelat itu. Jam setengan sembilan, artinya sejam terlambat dari jadwal pemberangkatan.
"Wah mbak. Ini kan Sumber Alam"
"La??? emang ini apa?"
"Ini Sinar Jaya, mbak!"
Muka saya diam dan sedikit senyum sambil menilik kembali kertas di genggaman, lalu menoleh ke teman di belakang saya yang ikutan mengantar. Sepertinya muka saya bukan merah lagi karena malu, mungkin sudah menjingga dan sedikit kekuning-kuningan. Dari tadi saya menyebut Sinar jaya sebagai nama bus yang akan saya tumpangi.
Sesudah meminta maaf dan mengucapkan terima kasih, saya dan teman saya dibantu dua ojek mengantarkan kami ngebut ke agen bis yang dituju tersebut.
Saya harus sudah ada di Jakarta malam ini, biar besok tidak "nabiyak-nabiyak " waktu bekerja kembali seusai liburan singkat ini.
Dan sayapun menemukan pool Sumber Alam dan disambut dengan muka agak judes petugasnya yang mengatakan bahwa saya sudah telat setengah jam. Dengan alasan apapun pada akhirnya saya menerima kesalahan atas keterlambatan itu dan hanya mengiyakan saat petugasnya berucap, "Mbaknya harus balik ke Pantok buat menukarkan tiket untuk perjalanan nanti malam, tapi kalau mbaknya mau uangnya balik, ya tiketnya hangus."

Pantok kira-kira 30 menit dari Kutoarjo, tempat pool bis Sumber Alam berada.
Seandainya tiket bus bisa diuangkan, saya sudah berniat melompat dari bis satu ke bis lain menuju Purwokerto atau ke Cirebon dan menumpangi Cirex menuju Jakarta siang itu, akan tetapi jika memang kondisinya demikian, maka mau tidak mau saya harus kembali ke Pantok, lalu menuju ke rumah Arif lagi di dekat SD Pelipir (somewhere in Purworejo) dan tidur sebentar di sana hingga pukul tiga sore dan kembali lagi ke Pantok menuju Jakarta dan esok subuh akan tiba kembali di kamar yang kurindukan. Yah apa boleh buat...

Tau tidak membeli tiket bis melalui agen bus kecil bisa menjadi ribet jika ketinggalan bus seperti saya. Saya perlu kembali ke tempat pembelian tiket bus (baca agen bus) untuk mengurus administrasi dan lain-lainnya. Akan tetapi saya (yang katrok dalam hal begini) memperoleh ilmu baru tentang naik bus malam yang kebanyakan mengangkut pemudik-pemudik kota kecil ke Jakarta dan sebaliknya tersebut.

Pertama, saya harus booking dan langsung membayar harga tiketnya serta memperoleh kertas booking berisi nama, dan nomer tempat duduk.
Kedua saya harus berada di kantor agen tempat saya membeli tiket bus, maximal 30 menit sebelum bis berangkat.
Ketiga, Sesampai di sana saya harus menukar kertas bukingan dengan tiket, tapi tidak secepat itu jika penumpangnya banyak, mau tidak mau saya harus menunggu hingga nama saya dipanggil dan bisa naik feeder bus menuju pool bus.
Keempat, sesampai di pool bus, saya harus mencari-cari bis yang akan mengangkut saya berdasarkan nomer bis yang tertera di tiket tersebut. Saat itu adalah high season, dan pemandangan di depan saya sempat membuat saya bingung karena busnya banyak sekali.
Kelima, untuk menghindari kebosanan karena kemacetan di jalan (apalagi jika perjalanan dilakukan pada saat high season bisa dibayangkan bagaimana macetnya), saya harus meminum obat anti mabok supaya tertidur agak pulas selama perjalanan plus kaos kaki dan kaos tangan dan jaket (pastinya) supaya bisa nyenyak tidur di jalan. Dengan demikian perjalanan jauh dengan menggunakan bus tidak akan terasa menjadi perjalanan yang menyiksa dan membosankan....

Have a nice long distance trip with bus...

Tuesday, May 18, 2010

picky picky

She: Jadi sekarang Susan pacarnya siapa?
Me  : Hehe Belum ada kaleee..
She : Loh di sini kan banyak?
Me  : Emmmmm .... Banyak sihhh tapi emang ada yang mau?
She : Kamu terlalu picky kali ya?
Me  : Mereka kalee yang terlalu picky
She : Hahahahhaa...
Me  : Padahal udah gw sale loh mbak. Kalau beli PIN berhadiah yang jualan.;))))))
She : Bhuahahahhahahaha....

*And she took an orange pouch as I pushed her a bit to buy some souvenir to donate some friends in a remote area of East Sumba. Certainly, What I replied was JUST a joke to remind her that I'm a joker... :))

02052010

Thursday, March 25, 2010

Kaos Kaki, Sponge Bob dan Selimut

Jika tidak memiliki kaos kaki bersih, atau boneka empuk serupa Sponge Bob ataupun selimut untuk menutupiku dari dingin? Maka jangan sekali-sekali mengajakku menginap di rumahmu, atau tetap ajak aku ke sana dengan notification bahwa kamu tidak memiliki ketiga atau bahkan salah satu barang tadi. Sehingga aku akan bisa membawanya sendiri sebagai bekalku terlelap ketika aku lelah bercengkrama sampai pagi. 

Kaos Kaki
Selelah-lelahnya mataku dan tubuhku, jika tak ada helaian tipis kaos kaki di kakiku... Maka bisa dipastikan aku akan terbangun terus dan mengganggumu. Aku merasa bare-feet sekali jika tanpa kaos kaki. Solusinya adalah memintamu menindihkan kakimu padaku, atau men"dusel" kan betisku pada kalian. Seringnya sih aku menduselkan kaki pada teman-teman satu tenda ketika di gunung. Kalau di sini? Cukup pada ballmut (bantal selimut) aku lindungkan kedua kakiku. i can sleep with nothing but not my feet cover. 

Sponge Bob
Boneka sponge bob ku ada Lima Biji. Tiga tergantung di dinding, yang satu di Surabaya dan satunya lagi menemaniku tidur. Jika ada compartment sisa di dalam keril yang muat si boneka tidurku, maka aku akan membawanya serta. Ia bisa menemaniku seperti halnya Si Unyil yang aku miliki dan beberapa kali menemaniku naik gunung. 

Selimut
Sepanas apapun, hanya lembaran tipis tersebut yang mampu melengkapi kedua item di atas.

Lalu, apa yang membuatmu bisa terbang ke alam mimpi seperti halnya aku dengan kaos kaki, sponge bob, dan selimut? 


Sunday, March 14, 2010

Surabaya sepanas hati dan Otakku

Kudunya liburan kali ini menyenangkan. Tidak jenuh dengan semua panas dan ketakutan akan hitam. 
Tapi apa daya pikiran makin hitam dan terbakar panas akibat bara neraka yang bocor di langit surabaya makin mengerdilkan diri untuk diam saja di rumah. 
Belum lagi kabar yang tidak menyenangkan yang datang bertubi-tubi menyerang inbox hp yang menjadikan saya makin blank dan sedikit manyun. 
Menghela napas berkali-kali tidak menjadikan hati dan pikiran agak plong. Mungkin hanya ocehan si kecil yang berkali-kali memilih nggelayot ke tante yang slalu dikangeninya ini yang mengalihkan perhatian saya akan masalah-masalah yang harusnya tidak mampir kalau saya memasang ajian kuda-kuda liar beberapa saat lalu. 
Maka saya memilih "anjal" ke beberapa sudut kota tanpa takut makin gosong. Toh sudah tak ada yang protes kalo saya jadi jelek dan gelap dipandang..

Ayuk ah... jalan-jalan mengikis hari di Surabaya nan panas.. 

 

Monday, February 22, 2010

Hanya menjadi telinga saja buatmu dan buatmu

Diam dan tidak berkomentar. Itu yang saya lakukan akhir-akhir ini saat saya mendengar kawan-kawan mencurahkan cerita yang bertautan dengan hati mereka masing-masing, tentang kisah cinta yang sedang diijalani, tentang ketersiksaan mereka menjalani hubungan dengan pasangannya, tentang acara PDKT yang saya tau sekali pasti membawa mereka pada arus berdebar-debar dan riang gembira. 

Cuek? Tidak.
Cemburu? Hem.. rasanya ngga juga

Salah satu hal yang saya rasakan ketika seseorang bercerita tentang proses PDKT dan mulai jadian dengan pasangannya adalah ah, habis ini juga lw bakal menderita" atau "yah.. masa masa honeymoon. Rasain dulu deh enaknya" atau lebih parahnya hanya tersenyum saja seolah-olah apa yang saya dengar barusan sebentar lagi akan musnah.

Ada lagi teman yang mencurahkan kisahnya bahwa ia tidak akan kembali dengan pasangannya karena sudah menyakitinya sedemikian rupa, tidak akan mengangkat telponnya dan intinya tidak akan menoleh pada mereka. Reaksi saya? Tidak ada. Cuma berguman dalam hati saja, "Hahaha.. Bullshit! Bentar lagi lw juga bakal balik! Tapi bentar lagi bakal disakitin lagi. Suka-suka lw deh mo cerita apaan" bahkan sering juga saya menoleh ke belakang sambil berpikir, "gw pernah lebih sakit dari lw, men! harusnya lw ga usah komplain separah itu. Santai aja cuy. Ntar ada cerita lebih parah dari ini, jadi lw kudu siap ngadepin yang beginian."

Atau ada lagi cerita PDKT teman baik yang lagi fall in love dengan orang yang "kurang" tepat. Tidak pake mikir lama saya cuma ngomong.. "Ya ya ya you know the feeling of yourself!" tanpa melarang dan memberi aba-aba "Jangan!"

Sinis? Iya. Sempit? Iya. Nyebelin? Banget.

Saya tiba-tiba jadi orang seperti itu. Tidak asyik dimintai nasihat (mungkin dari dulu sih hahaha tapi sekarang makin tidak asyik). Boleh deh berpikir saya tidak asyik. Tapi boleh juga dong saya jembrengkan di sini kenapa saya jadi demikian. 

Mungkin, saya sudah tidak mampu "menggurui" masalah hati dan hidup yang orang lain jalani. 
Orang lain mungkin bisa berkata.
"tinggalin aja laki-laki kek gitu." 
"Jangan deket-deket lagi ma dia."
"Wah gw ikut seneng kalo lw seneng."
d.l.l.

Buat saya itu cuma basa-basi yang baseeee. 
Dulu sebelum saya pernah merasa di dunia "mereka", mungkin masih bisa merasakan getaran-getaran sakit dan gembira yang "mereka" rasai. Tapi sesudah jauh meninggalkan perasaan seperti itu rasanya cuma bisa mendengarnya saja tanpa mencoba menjadi "sok wise"
Mungkin karena pola pikir saya sudah terbentuk dari bermacam-macam kekecewaan yang menggunung dan tanpa disadari menjadikan saya orang yang sinis akan terwujudnya harapan pada orang lain kecuali pada diri sendiri.

Bukankah sakit hati, perasaan senang, dan gembira itu masing-masing mereka yang menjalani. Saya cukup setujuh dengan ucapan seorang teman bahwa saat teman - teman itu mulai bercerita yang mereka butuhkan sebenarnya hanya kuping alias telinga dan bukan nasihat. 

Jadi mau bercerita macam apa aja, saya hanya akan mendengar dan mendengar saja tanpa coba melarang dan mengiyakan cerita mereka. Dan karenanya apapun bentuk nasihat kita pada orang lain, ujung-ujungnya mereka sendiri yang memilih jalan hidup macam apa yang terbaik dan mampu mereka sanggah.

Salam,
Sweet Sue.


Posted in my FB

8 Okt 2009

Sunday, January 24, 2010

s.e.m.a.p.u.t.

Kalau pingsan alias semaput gara-gara jogging, naek gunung or sepedahan mungkin teman-teman (Baca teman-teman kos saya) saya bisa memaklumi.
Ceritanya Sabtu kemarin, saya kehabisan bahan buat masak minggu ini. Beras cuma tinggal sedikit. Di kulkas cuma ada kornet, 1 buah telur dan coca cola sekaleng kecil plus jus guava kemasan yang mau habis.
Meskipun salah satu teman saya, Deria si Miss Heboh itu melarang saya dan Anna untuk belanja karena ia masih punya sayur alasannya, saya bersikeras dengan Anna yang memang sudah kehabisan logistik untuk makan minggu ini. Kami sudah sadar sekali kalau belanja itu tetap best way to save our money. Bayangkan saja dalam 1 minggu saya bisa menghabiskan 30.000 rupiah saja untuk lauk pauk dan sayuran yang bisa kami simpan di kulkas dan masak sesuai selera, belum lagi bonus buat teman-teman di kantor saya yang pasti akan dengan lapang dada menerima limpahan lauk pauk yang saya masak.

Sabtu itu memang panas sekali. Tapi akhirnya kami bertiga (saya, Revi dan Anna) tapi tiba-tiba si Miss Heboh Deria yang masih "trauma" dengan tragedy pencurian di kamarnya mendadak ikut dengan alasan tidak ada siapa-siapa di apartemen lantai 2. Ah, dasar lw. Kan ada densus 88 antiteror yang siap mengusir siapa saja yang bakal mengganggu keamanan seluruh kamar apartemen Bu Tuti ini????

Lalu kami pun berempat menapaki satu demi satu langganan kami di Pasar Cipete (cuma butuh 5 menit berjalan kaki ke pasar ini dari kos kami) dan mampir dulu membeli Combro dan Misro untuk dimakan rame-rame.
Pagi yang panas dan pasar masih sesak. Saya sudah niat sekali bikin kudapan lumpia saus taocho seperti yang ibu saya bikin.
Sampailah kami di tukang kulit lumpia dan makanan jadi lainnya. Si Ibu dan Bapak ini memang laris karena barang dagangannya paling lengkap dan murah. Saking lamanya pelayanan yang saya dapatkan tiba-tiba ada aroma aneh melewati saya dan napas saya menjadi sesak.

"Pi... keknya gw ga kuat deh!" Ujar saya pada Revi. Si bocah bontot yang biasa dipanggil jablay cilik ini senyam senyum saja melirik saya. Sampai di tukang sayur sebelah, saya melihat Deria menawar sawi. Saya berdiri di sampingnya. Sambil menunjuk kursi di belakang si tukang sayur. "Gw mo duduk." Deria dan Anna serta Revi hanya melihat saja dan membiarkan saya duduk. Saya memejamkan mata dan melihat ketiga teman saya masih bingung mengamati saya.
"Wah.. mbak Susan mukanya pucettt bangettt." Kata Revi, sialan, dari tadi lw kaga denger apa yak?
"Waduh. Lapar kali tuh anak." Kata Deria. "Kasih combronya mbak Anna!!." Lanjutnya. Saya ingin teriak. "Gw ga mau combroooo, Lw ke sini dong buat gw sandari. Kepala gw berat banget nih." Tapi saya sudah tidak kuat meminta tolong. Pandangan sudah kabur, Pendengaran sudah hilang. Yang ada hanya napas yang makin berat. Berat sekali. "Pulang ya? Naik bajaj. Mana sih bajajnya?" Katanya sambil tolah toleh. Biasanya bajaj juga lwat pasar kaget ini tapi saya yakin tidak akan ada bajaj lewat di tengah-tengah jalan yang lagi ramai menjadi pasar ini.
Sampai akhirnya Revi memberikan aqua dingin!!!! Iya Aqua dingin dan desperatenya saya langsung saya minum dan menyenderkan kepala di sampingnya. Revi diam dan makin banyak terdengar suara-suara ribut di sekeliling dan tiba-tiba suara bapak-bapak yang sesudahnya baru saya sadari adalah bapak penjual kulit lumpia tadi memijat telapak tangan saya dan leher saya.
"Mbak bisa pijit lehernya?" Katanya pada Deria. "Ih.. gw takut kalo kudu mijet leher!" Lw apa sih der yang ga takut? Listrik takut, kompor nyala takut, maling takut, sekarang mijit leher juga takuttt?" Ampiiiun. Lalu si bapak tadi langsung memijit dan saya bilang ke Revi, "mo muntah Pi. Mo plastik!"
Plastik bungkus combro dan Misro Anna dikorbankan ketika si pemiliknya sibuk mencari teh gara-gara protes keras para ibu-ibu yang melarang air mineral dingin diberikan pada saya. "Kasih Teh hangatttt!!! Jangan Aqua dingin!!" Katanya.
Lalu. Plastik sisa combro tadi dipegangi sama Revi dan Deria. Seolah-olah saya tdak bisa memegangnya. Aduuuhhh... tapi saya sukses Jackpottt. Tiba-tiba Anna datang dengan teh hangat manis yang benar-benar menolong mengembalikan keringat dingin dan pengelihatan saya. Pendengaran saya juga berangsung-angsur normal sesudahnya dan mendapati orang-orang berlalu dan bertanya pada saya, "Itu masuk angin kasep mbak. Jangan dikasih air dingin. Kasih Teh manis hangat!" "Nanti kerokan ya mbak." "Tuh sudah ga pucet lagi kan?" "Mbaknya ini sakit tapi ga pernah dirasain ya?"
Dan saya bengong, menikmati angin di belakang saya yang dihembuskan oleh si bapak tadi lewat kipasan dari korannya.
Tapi masih deg-deg-an. Seperti baru keluar dari ruangan sempit tanpa udara dan kegelapan. Revi dan Deria masih di samping saya meminta saya menghabiskan teh hangat manis.
Sesudah agak kuat saya berjalan lagi pelan-pelan pulang. Bukan sih... belanja lagi sedikit dengan napas terngah-engah dan kepala yang makin berat. Apalagi di tengah jalan ketiga teman saya yang lucu dan baik-baik tapi perlu ditraining P3K, SAR dan PMR ini saling menyalahkan saya.
"Gara-gara lw san, gw dimarah orang sepasar!" Kata Anna.
Deria dengan hebohnya menirukan teriakan orang-orang.
"Jangan didiemin mbak! kan udah dikasih aqua dingin buk. Jangan Aqua dingin! Teh hangat yang manis. Gw bingung deh beli teh di mana. Akhirnya Anna yang beli mana mukanya biingung cari-cari warung!"
"sebelum diminum mbak Susan. Revi minum dulu tuh tehnya, si Ibu sayurnya ketawa tau!" Aku si Jablay Cilik.
"Sialan lw!" Jawab saya.
"Gw kan udah punya feeling tadi jangan ke pasar. Lw ga nurut gw sih!" Kata Deria, Jablay salatiga yang baru kemalingan HP 6jutanya!
Dan perut saya makin sakit juga kepala saya karena kebanyakan tertawa sesudah mendengar pengakuan saya selama acara pingsan mendadak di Sabtu pagi ini.
"Naik gunung aja lw ga pingsan. Eh ini ke pasar aja lw langsung bikin kita dimarahin orang sepasar."
Hahahahha....
Sepulang dari pasar, karena mulut mereka akhirnya ibu kos juga mendengar dan langsung sigap mengantar sepiring cap jai buat sarapan pagi itu.

Selain realy-realy thankful to my friends that morning plus beberapa ibu penjual sayur dan ibu -ibu yang ada di pasar sabtu pagi itu, I wish there's a candid camera!!


*What a Hard Saturday Morning...

Sunday, December 20, 2009

T.e.r.a.w.a.n.g.

Diterawang tentang masa lalu kita apa enaknya sih?
Seseorang tiba-tiba datang dengan style penerawangan masa lalu saya yang gelap dan tidak indah itu. Awalnya saya membatin "wih.. hebat nih orang bisa dengan samar mengatakan apa yang saya alami." meskipun saya tidak yakin itu hasil dari bisikan jin-jin temannya atau makhluk-makhluk yang tidak jelas yang katanya membisikkan dia a,b,c, dll begitu melihat foto saya.
 
Lalu, ada sedikit penyesalan mendalam mengenai masa-masa kelam itu. Atas runutan sejarah kelabu itu saya cukup terhenyak dan tidak ingin melaluinya lagi. Saya bahkan sempat menangis atas seluruh kejadian tidak enak saat saya berada di dataran luas penuh takbir dan pakaian serba putih.

Kemudian si tukang terawang tadi mulai mengirimkan email-email lewat lintas pribadi. Sayapun menanggapinya dengan biasa-biasa saja. biasa sekali. Tanpa cerita pribadi yang membuatnya bersimpati dan mentari hehehe...
Namun, lambat laun, kata-katanya berubah menjadi nasihat, menyebut nama Tuhan saya dengan lengkap, mirip guru agama dan mama Dede yang penuh barokah dengan memberi ceramah agama tiap pagi. Plus nasehat yang buat saya seolah-olah semua terawangan masa lalu itu adalah murni kesalahan saya. Hem.. Lalu para lelaki tak beraturan, dikemanain???

Saya tidak mereplynya lagi. Bukan karena sakit hati. Semata-mata buat saya ucapan ucapan dan nasihatnya itu bukanlah hal yang perlu saya tanggapi. Saya yang akan meluruskan jalan saya sendiri karena saya sendiri yang membengkokkannya, dan tidak perlu putunjuk orang lain, karena saya sendiri tidak pernah berusaha meluruskan jalan orang ataupun memberi nasihat meskipun secuil.

Oh iya, lama-lama saya sadar, yang saya butuhkan bukan terawangan tentang masa lalu kaleeeee. Apalagi masa lalu yang suram. Mbok ya menerawang yang indah-indah saja. Juga, yang saya inginkan sebenarnya adalah terawangan masa depan. Tentang karir setinggi apa yang akan saya capai, Kapan Yaris Flint Mica bisa saya miliki, kapan bisa merasakan falling snow di New York, Berkunjung ke Rostock dan bertemu si muka Boys Band yang menawan itu, Lalu di belahan bumi Jawa bagian mana saya akan menemukan lahan untuk menyelinapkan hiking gear dan menempelkan poto-poto petualangan-petualangan kecil saya beserta perpustakaan mungil idaman di tengah rumah. Atau kalau mau saya bilang "hebat" coba terawang siapa yang akan menemani saya nyeruput vanila atau mocacinno panas dan saya buatkan cemilan hangat di sore hari. Itu baru akan membuat saya senang.

Well...
In short, saya cukup bersyukur diingatkan akan badungnya saya kemarin-kemarin. Tapi cukup sampai di situ saja. Tak perlu menceramahi saya...

*****
Pagi, Hujan dan Mocacinno panas and also My God ... and No need other shit things, then!

Wednesday, December 2, 2009

k.e.c.e.n.t.o.k.

Dalam istilah kami para yong Java, kecentok berarti keadaan di mana kita sudah kapok, kecewa yang mendalam, pada sikap seseorang. Saya pribadi mengartirkannya dgn istilah ngamuk sengamuk ngamuknya, gondok segondoknya, kecewa sekecewa cewanya.

Kalau kita sudah kecentok, jangankan teman, seorang kekasih bisa langsung ilfil karena merasa harga dirinya secara sengaja atau tidak terinjak, tidak dihargai keberadaanya, dan terhina luar dalam.

Secara tidak sengaja, sayapun sempat kecentok oleh jurnal seseorang dan membuat saya ilang feeling  seketika itu juga dan menghapus smua yang indah yg pernah kami lalui.

Dan hari ini saya kecentok lagi.Kali ini, seperti sebelumnya, saya hanya bisa mengganti tinta hitam di setiap cerita indah itu dengan tinta super merah nan tebel plus underline dan menganggap smuanya tidak indah sama sekali alias kampungan!



*jakarta, 031209:01.25

Tuesday, May 5, 2009

Satu Pernyataan

Bolehkah seorang perempuan mengungkapkan perasaannya pada lelaki yg diincarnya?
Kalau pertanyaan itu ditujukan pada saya, jujur saya akan jawab boleh asal berani menanggung resiko ditolak dengan bonus malu kuadrat alias malu pangkat dua.
Malu pangkat dua? Ya, bukan apa-apa, saya merasa sudah menjadi perempuan, tapi kok garis nasibnya kudu menjadi orang yang menyatakan perasaannya duluan ke laki laki terus ditolak pula. Apes... Belum lagi kalau muncul tudingan "gatel",  atau "ih ga tau maluw deh."

Berbeda dengan laki-laki yang dianggap sangat wajar menembak perempuan meskipun beresiko ditolak, paling-paling akan muncul pemikiran "ya lumrah, namanya juga usaha biasa kan?"

Saya jadi teringat kisah kecut 4 atau 5 taun lalu yang akan selalu saya ingat sepanjang saya bernapas.

Saya memanggilnya abah. Dia ketua KKN dan saya sekretarisnya.
Klop kan kemana- mana sering berdampingan untuk berkoordinasi ini itu. Mengurus perijinan
ke sana ke mari.
Saya, harus jujur mengakui, termehek-mehek pada sosok sigapnya yang mirip burung-burung dara dan ayam-ayam piaraanya, cara ngomongnya yang hanya bisa dicerna dengan mudah oleh kaum-kaum di pasar tempat ia berjualan chiki, krupuk tahu dan makanan ringan lainnya. Abah juga menjadi sosok yang applicable and down to earth banget.

Semua kalangan ada dalam daftar pertemananya. Bahkan ayah saya yg susah sekali menerima teman-teman dekat cowo saya bisa dengan mudah ditaklukkan. Lebih menakjubkan lagi dengan gaya bergaul yang "grapiak" sekali, hampir semua tetangga kanan kiri saya bisa ia babat sebagai teman.

Nah karena ketermehekan saya pada pesona seorang abah, saya sempat mati gaya saat ada di dekatnya, tiap kali ia menelpon, bunga-bunga ada di sekitar saya padahal dia hanya menanyakan LPJ KKN yang sedang saya kerjakan. Terkadang ia akan menemani saya mengerjakannya. Diajaknya jalan-jalan kalau cape dan tentu saja dibuatnya tertawa terus karena pesona lainnya adalah ia mirip kartolo. Lucu.
Kamipun makin dekat saja, ia seolah makin memberi harapan dan saya makin suka meskipun sejujurnya belum yakin apakah ia memiliki rasa suka seperti yg saya punya. Tidak ingin berlarut-larut, suatu hari saya memprakarsai niat untuk mengungkapkan rasa padanya.
Saya ingat, adalah telpon yang waktu itu jadi perantaranya, pendeknya setelah lama-lama ngobrol ngalor ngidul, kulon wetan tak tentu arah, arah pembicaraan mulai menuju titik sasaran seperti ini :
........
Abah : ah malas ah kalo aku yg nitip salam ke orangnya.
Aku  : cengar cengir sendiri di telpon. (kan kamu orangnya)
Abah : Yo wis aku omongno. Sopo wonge, Nduk? (Ya sudah aku sampaikan, siapa orangnya, Nduk?)
Aku  : Abah.
Abah : La iyo sopo jenenge.
Aku  : Abah.
Abah : Lo. Abah sopo? (Lo abah siapa?)
Aku  : Yo, abah sopo mane?! (Abah mana lagi?!)
Abah : HAA??!! Aku ta Nduk? Awakmu senenge iku karo aku? (kamu senengnya sama aku?)
Aku  : (Ketawa ngakak, ntah apa yang kuketawakan. Mungkin kebodohanku ya. Atau menertawakan reaksinya yang kaget tak menentu.)
Abah : Wakakakakakakakakak. Hahahahahaha. Buahahahahahhaha... Awakmu ndelok opo, Nduuuuuk? (Kamu liat apa sih, Nduk?)
Aku  : Ga eroh aku bah hahahahahha (Mene gue tehe, Hahahahahahaha!)
..............
Dan anda semua bisa menebak apa yang terjadi kemudian kan?
Saya sukses ditolak abah!
Sayapun berjanji bahwa itu untuk yang pertama dan terakhir saya menembak laki-laki. Tapi di sisi lain ada kepuasan tersendiri bisa menyampaikan rasa itu padanya. Rasa yang mungkin hampir setahun saya pendam sejak bertemu muka dan putus nyambung dengan pacar saya kala itu (which main reason is ya karena ada abah, ah lelaki impian hampir semua cewe-cewe kala itu hahahahaha.)

Lalu, saya akhirnya bisa mengikhlaskan abah dengan mudah karena ia tetap bersikap baik dengan saya dan saya merasa dihargai meskipun bukan sebagai kekasih setidaknya ia benar-benar menjaga perasaan saya tiap kali jalan bersama.
Bahkan sampai sekarangpun tetap ia jaga tali silaturrahmi itu dengan keluarga saya, tiap kali abah berputar-putar di sekitaran Sidotopo dan sekitarnya, ia akan dengan senang dan riang gembira mampir untuk sekedar makan di rumah saya meskipun saya sendiri tidak ada di rumah saya lagi.
Katanya, rumah saya adalah rumahnya juga meskipun rumahnya tak pernah jadi rumah saya kecuali begupon-begupon milik burung-burung darahnya yang katanya mau diwariskan pada saya. Asem! (halah!)
 
Beberapa saat yang lalu atas kedesperadoan saya, saya ingin menembak seseorang lagi, bukan sebagai kekasih melainkan sebagai suami. Ya, coba-coba aja siapa tau berhasil (wakakakakak). Kalau berhasil ya syukur kalau ngga ya ga papa.

Saya mungkin sudah bisa menerima kenyataan bahwa untuk menjalani hidup dengan seseorang bukan lagi hal yang mustahil untuk belajar mencintai seseorang sesudah menikah.
Bukankah akan menjadi sebuah hal yang amazing and unbelievable kalau saya bisa mencintai seorang laki-laki sesudah saya menikah dengannya?
Namun saya teringat lagi akan janji saya dulu. Bahwa abah adalah orang pertama dan terakhir yang saya "tembak" dan sayapun mengubur niatan gila itu.

Seperti itulah, terkadang sebuah pernyataan yang jujur dan tulus pada seseorang bisa menjadi terapi hati yang menyudahi ke"engap"an rasa di dada kita. Tak perlu malu jika pada akhirnya jawaban yang kita peroleh tidak sesuai harapan.
Tapi seandainya kita di posisi yang "tertembak" jangan sekali-sekali menunjukkan kearogansian dan kebesaran kepala yang membuat si "penembak" merasa menyesal telah "menembak" sasaran yang ternyata ngga asyik dan ga patut diberi hati sedikitpun!
 

Monday, September 22, 2008

sepuluh hal tentangku

Demi memuaskan Jeng Swasti yang berkali-kali mengingatkan PR berantainya yang dia kasih ke aku beberapa hari lalu, jadilah beberapa hal yang semestinya kusimpan di bawah ini kuungkapkan dengan ikhlas. Semoga ga eneg aja bacanya ya.


To know me precisely, you can even figure out from the 10 brief stories I wrote below:

1. Yes, I do
Dulu pernah ngefans banget n berharap bisa jadi pacar seorang kakak tingkat yang lucu n rock and roll banget. Suaranya yang merdu banget pas nyanyi n masih terngiang sampe sekarang. Tapi ternyata dia ngga terlalu ngeh sama aku  Satu tahun sesudahnya dia suka sama teman dekatku dan melakukan pendekatan habis-habisan dengan aku dan seorang teman lagi sebagai mac-com nya. Suatu hari sesudah kencan dan memberi mawar dan sebagainya, dia menelpon menanyakan apakah temanku tadi mau jadian ma dia. Guess what, I was the one who picked up the phone karena temen aku itu sedang malu-malu kucing and baru bangun tidur pula.
Temenku                 : (Teriak) bilang “yes I doooo… “
Aku                         : (Sambil pegang telpon) ya udah ngomong dewe!
Lelaki rock and roll  : Gimana, Tuk Platuk? dia jawab apa? (that’s how they call me.)
Aku                         : (Bingung – harusnya dia jawab dewe ya??) “Yes, I do!”
Lelaki rock and roll  : ha?
Aku                         : Dia bilang “Yes, I do!”
Kudunya dia bertanya itu setahun sebelumnya kepadaku ya! Hahahaha…


2. Clubbing? So far Jez Once!
Itupun karena terpaksa demi mencari data para waria yang asyik rumpi-rumpi di sebuah diskotik dalam acara pemilihan Miss Waria di Surabaya. Kalau bukan karena kenekatan memilih judul “Slang Used by Waria in Surabaya” aku ngga akan berani memasuki tempat itu, selain jalanan tempat mereka mangkal tiap malam minggu. Beberapa teman cowo dan waria yang membawaku serta ke sana sudah lihai menikung dan mencak-mencak sambil mabok. Lirikan dan rumpian para gay dan waria yang melewatiku makin membuatku pengen cepet-cepet get fuck out of that crowded.
Bukannya sok alim, tapi aku kagok soroh (banget) berada di sana.


3. Dilombok
Gara-gara ada segerombolan anak-anak lewat di depan rumah pada “belajar” ngomong jantjoek akupun sebagai anak berusia 4 tahun yang cerdas dan well learner, ya ikutan lah.


And the disaster came…
Mendengar aku dengan fluently alias gape ngucap kata itu, dengan tanggap dan sergap, Ibu datang dengan beberapa cabe rawit di tangannya dan yes, aku sukses makan dengan paksaan!
Langsung nangis Bombay sebelum ditolong mbah putriku dengan gula-gula ditangannya. Sejak itu, aku nda berani makan cabe rawit n ngerasa jijik sama sambel di atas cobek.


4. Desy Prakoso
He was the boy of every young girls dream about… hahahaha.
First boyI crushed. rambut kriting, berubuh ceking dan tentunya idola cewe-cewe kelas 5 n kelas 6.. hahahaha
Dia waktu itu kelas 6 dan aku kelas 5. Sempat surat-suratan, cuy!
(norak sorohhhh!!!!)
Kelasku dan kelasnya terpisah oleh pintu yang memungkinkan kelas 5 mengintip kegiatan anak-anak kelas 6. Dan pastilah aku ngintip downg…. Secara ada Desy gitu lo di sandang! Suatu hari kegiatan spying menghasilkan pengetahuan baru tentangnya. I saw Desy Prakoso lagi menyalin PR teman sebangkunya sambil berkali-kali menggerakkan bagian mulut dan hidungnya, mirip banget mantan presiden RI yang terkenal dengan ucapan, “gitu aja kok repot!” Ternyata itu adalah kebiasaannya bow!!!
Seorang teman yang sempat aku certain sambil menirukan kebiasaa Desy Prakoso tadi tertawa sampai terkencing-kencing. Hahahahaha… aku aja kalo mengingat kisah itu selalu membuatku ngakak ga karuan kok, apalagi orang lain. Kira-kira gimana dia sekarang ya...


5. Inggris 9, Indonesia 5
Lulus SMKN Kejuruan dengan hasil transkrip di mata pelajaran Bahasa Inggris 9,17 dan Bahasa Indonesia 5,67. Sedih sekali karena ngga pernah maksimal mempelajari bahasa sendiri. Dan itu adalah nilai terburuk diantara sekian banyak mata pelajaranku kala itu. Usut punya usut ternyata guru bidang studi suatu pelajaran menentukan sekali hasil yang bisa didapat seorang murid. I didn’t have any comprehensive Bahasa teacher in that years.

6. I’ll be Back
Selalu saya ucapkan ketika pertama kali menginjakkan kaki di tempat yang baru. Sepertinya ada chemistry tersendiri untuk mengatakan kalimat itu jika aku menyukainya, sehingga sesuatu yang bagiku di luar mimpi itu akhirnya menjadi kenyataan berulang. Semisal tak pernah terbersit keinginan untuk ke Jakarta namun ntah mengapa ketika meninggalkan Jakarta 3 tahun lalu aku membatin pelan,”I’ll be back!” Dan ternyata kota itu mengharuskanku berkali-kali ke sana untuk urusan ini itu. Begitupun dengan Bandung dan Semeru. Kedua tempat susulan yang membuktikan bahwa dengan kata-kata I’ll be back itu aku selalu kembali ke sana. Sepertinya nanti kalo diijinkan menginjak NYC, pasti aku akan bilang, “I’ll be back again and again!”

7. Mesum
Ini yang sering aku tanyakan pada beberapa teman. Kejadian pertama waktu di Kute sore hari. Beberapa teman sudah mendapat beberapa bule buat diinterview sebagai tugas Mata Kuliah Manusia dan kebudayaan Indonesia serta speaking. Karena sudah malas jalan n sudah selesai hunting bule, aku dan temanku (which looked brighter and whiter than me!) seorang bule menghampiriku mengajak jalan-jalan menyusuri Kute. Bow… malam di pantai yang enak ya makan jagung sambil kejar-kejaran kek di iklan silverqueen. Hahaha..
Bule : Come on. I’ll give u pleasure!
Me   : Nunjukin muka super blok’on n tolah toleh ke teman di sebelah
Bule : I’ll give you some presents how about that?
Me   : I think u are knocking a wrong door!
Bule : Alright. Where do you stay? What number?
Me   : Udah pengen nggampar mukanya
Bule : I’m staying in….. and this is the room number… (ngasih name card hotelnya)
Me   : Langsung beranjak jalan dan menggandeng temanku erat-erat (suerr takutt)
Bule : How much are u???
 
Aku langsung ngacir, sempat pake acara tarik-tarikan tangan sama bule sialan itu.
Empet kali tuh bule! !!!

Dan beberapa kejadian susulan di Gambir dan Bandung yang kalo diceritakan akan sangat panjang dan lucu. Yang jelas sesudahnya aku pasti sms beberapa teman dan berakhir dengan pertanyaan, “Emang muka gw mesum ya?”

8. Birthday
Ngga pernah ada perayaan Ultah kusus selama aku bernapas kecuali ulang tahun ke 25. Guess what was my wish before? Waktu itu aku berdoa ingin sekali meniup lilin di usia seperempat abad di luar tempatku lahir dengan orang yang kucintai (cieeeeeeeee). Sebagai tanda aku bisa memulai kehidupan yang lain yang jauh dari rumah. God heard me. Waktu itu enoy datang membawa sebuah black forest kecil titipan kak Vera di sela-sela acara Buka bersama teman-teman pendaki di Ragunan.
Semua memberi ucapan selamat dan ah… that was the sweetest thing I have ever had. Kado terindah yang ngga pernah kusangka akan datang dari teman yang lain bukan dari orang yang kucintai kala itu.
Hemmm… I love you friends…


9. Maaf, jangan Pentas dulu
Yang ini agak sedih untuk dikenang.
Semasa TK mungkin terlalu aktif dan suka petakilan jadi di setiap kesempatan, guru-guru TK itu selalu mengikutsertakan aku di beberapa acara luar sekolah. Tapi anehnya orang tua murid dikenakan biaya sewa kostum, transport dan lain-lain. Ada satu acara yang aku sangat ingin ikuti ketika terpilih mengikuti pentas tari bunga.
Namun, satu hari Ibu mengatakan pada Bu Endang supaya aku jangan dipilih terlebih dahulu karena tidak ada uang untuk membayar sewa kostumnya dan lain-lain. Nelangsa rasanya. Padahal sempat ikut latihannya…
Kalau mengingatnya aku makin bersemangat menjalani hidup dan bekerja supaya anak-anakku tidak mengalami cerita yang sama seperti itu. …

10. Jadi Guide
SMKku dulu punya travel agency yang melayani pengaturan tour, biasanya ke Bali n tiap murid pasti kebagian sekali membawa rombongan ke sana. Mungkin karena tidak ada persiapan khusus buat memberi pelatihan ke murid-murid jika ada tour dadakan, maka aku dapat jatah sampe 4x membawa rombongan sebagai guide dan kadang sekaligus tour leadernya, sementara yang lain ada yang belum sempat diberangkatkan.
Karena juteknya, seorang teman ngga mau ngomong dan menyapaku sampai kelulusan tiba. Ya siapa sih yang ngga BeTe kalo dia belum sempat jalan-jalan gratis sementara ada yang sampai 4x dapat, dapat duit pula! hahaha…
Halah. Bukan salahku, kalee…


************
Dan akhirnya kurantaikan PR ini pada orang-orang tua aja deh biar tau mereka kek apa pas masa penjajahan dulu:

1. Farid (tralala.. trilily...)
2. Nanda
3. Abah Fachrie (Gigolopala)
4. Rycopobia
5. Penjaga Makam
6. Om Jarot
7. Tante Harlie (Dunia Inoi)
8. Dhanis Wanardi
9. Mbak Diantini
10. Bang Rasyid (Karat Outdoors)

kerjain ya... :p

***poto cabe nyomot di hotradero.multiply.com