Friday, August 23, 2013
Supernova
Friday, June 14, 2013
Thursday, July 19, 2012
Remember !
Wednesday, June 13, 2012
just remember...
Saturday, October 15, 2011
Sekedar eksistensi atau apa?
Monday, September 26, 2011
The Dream Catcher
Tentang pengungkapan rasa di wall, di timeline ataupun di kesempitan lapak yang disediakan blekberi.
Rasanya akan sangat berat jika kita mengingat yang indah indah, sama beratnya dengan mengingat keburukanmu.
Jadi aku membiasakan diri lagi untuk tidak pernah mengenalmu dan menjalani hari seperti sedia kala aku mendatangi Borneo.
Aku suka dengan rasa seperti ini. Flat seperti mengalir bersama air dan berhembus seperti angin di pantai Angsana.
Pun menjauhkan hati bercerita tentangmu dengan siapapun. Aku menghindar bukan berarti menghindari masalah. Namun jauh dari itu, jika seperti itu terus menerus, maka artinya kau kuanggap penting sekali dalam hidupku. Padahal aku tidak ada pentingnya untukmu dan aku tidak lagi berharap bahwa aku menjadi penting.
Aku yakin jika kau milikku kelak, maka angin dan air lah yang akan membawamu padaku bukan sikap dan permintaanku.
Aku mengikhlaskanmu....
Wahai alam,
Aku hanya akan mengikuti gerakmu, memalingkan aku kembali pada satu dua kotak yang pernah aku buat. Kotak kotak berisi mimpi untuk aku jadikan nyata.
Sebuah rumah mungil di mana pojokan-pojokannya akan berisi ruang baca kecil, lemari es dengan koleksi tempelan magnet yang sudah kukumpulkan, Ruang tidur empuk nan cozzy dan sebuah ruang dimana kutempatkan peralatan perang di atas gunung. Tak lupa sebuah garasi luas dengan yaris di dalamnya.
Dan alam,... Mimpi yang lain aku simpan dulu. Kau pasti mengerti arti mimpi itu.
Love,
The dream catcher
Thursday, June 16, 2011
my first field break
Sekarang gw di Surabaya. Gw dapat cuti off site selama 2 minggu totalnya sih 16 hari (14 hari off dan tambahan 2 hari buat jalan pulang dan ballik) Temen temen gw menyebutnya Field Break. Awalnya gw bingung tiap kali membaca pesan di email yang isinya pamitan pamitan karyawan yang sedang cuti itu. Ada yang menanggapi dengan "Happy FB mas..." Gw pikir FB itu singkatan dari Face Book ternyata pas mendekati cuti ini gw baru tau itu singkatan dari Field Break. Honest, gw masih zero knowledge tentang pekerjaan gw ini. Tentang semua hal di internal issue hingga apa apa yang ada di luar. Gw emang sering banget tanya sana sini
Friday, May 27, 2011
Preambule (Borneo Journal)
Hello,
Long time no see. Long time no write.
I've been missing my own words (Narcicsm? who cares :D)
Saya memasuki dunia yang benar benar baru di satu tempat di selatan Borneo. Saya suka menyebutnya Borneo daripada Kalimantan, rasanya lebih tasty. Dunia penuh debu, batu bara, laut, birokrasi dan lingkungan baru yang panas dan hujannya sering dadakan datang.
Saya tinggal bersama 9 orang lain di satu atap yang kami sebut mess blok F. Sama seperti pekerjaan sebelumnya, kali inipun saya ditempatkan di Divisi Marketing. Sebenarnya saya sangat bersyukur dengan pekerjaan sebelumnya yang sama sama menempatkan diri saya di divisi yang jadi ujung tombak suatu perusahaan karena dari situlah saya mempelajari bahwa Marketing tidak hanya sekedar menjual melainkan eksekusi berikutnyalah yang jadi point utama kepuasan pelanggan (halah).
Saya kebanyakan tinggal di camp yang mirip rumah dengan banyak kamar . Sebenarnya jatah untuk kamar di dalam miningpun ada namun untuk efisiensi kerja dan quick respond saya pun harus sering tinggal di luar. Maka di situlah saya selama hampir 2 bulan ini, kami menamainya mess blok F. Setiap hari saya bekerja di sini. Bangun tidur bukan langsung mandi dan menuju kantor. Melainkan melihat BB di samping bantal dan mengecek pesan di grup bb untuk mengetahui progress kerja apalagi yang akan dilakukan hari itu. Kemudian membuka laptop dan siap siap beraksi. Namun terkadang pula seharian i'm doing nothing karena harus menunggu ini itu.
Adalah acara sarapan dan makan malam yang saya sukai karena pada saat itu kami semua penghuni di sini kadang akan dengan sigap berkerumun di meja makan dan makan bersama sambil bersenda gurau menceritakan keseharian kita, saling mencela, menceritakan kenaikan berat badan, atau kekonyolan dan kekesalan selama menjalani kerja seharian.
Kebetulan saya ditugaskan menjadi document coordinator yang mengharuskan saya berlari sana sini untuk kelengkapan dokumen sebelum tongkang-tongkang serta vesel bisa berlayar menuju ke dishcharging point. Kata orang orang kerjaan saya enak karena traveling all day long. Well, I'm lucky for that. Tapi ingat rumput tetangga kelihatannya memang lebih hijau loh.. All works work with risk.
Happy long weekend everybody
(To be continued)
Sunday, March 27, 2011
regret
Sesal. Sering menyeringai akhir akhir ini tiap kali saya membaca ketikan ketikan saya di jurnal Multiply, notes FB maupun blog saya.
Sesal karena kadang saya sadar, dahulu saya sudah seriiiing sekali membuang waktu saya untuk hal hal yang menyita waktu dan kesempatan saya.
Sesal karena saya cukup berani menyimpulkan bahwa saya sudah menyia nyiakan usia untuk harapan yang tidak jelas. Iyah, gajah didepan mata tak tampak, semut di seberang sungi tampak itulah kebanyakan yang saya alami.
Dan yang paling saya sesali adalah saya akhirnya makin sadar bahwa saya sudah pernah melewatkan kesempatan besar untuk membangun masa depan dengan seseorang yang akhirnya membuat saya sadar bahwa dialah satu satunya orang yang selama ini selalu berada di samping saya. Yang tidak pernah melupakan saya disaat ia bahagia dan bahkan saat ia sangat kekurangan. Orang yang hatinya selalu ia persembahkan untuk saya.
Sempat saya berkata padanya, seandainya saya tidak "membodohi" diri sendiri untuk mengejar hal hal bodoh tersebut, saya pasti tidak akan semenyesal sekarang. Seandainya saya mengiyakannya dari dulu dan mau memberinya kesempatan, saya tidak akan sebanyak ini mengeluarkan tenaga untuk menangis dan bertanya pada dinding dinding itu akan kenapa. (Pertanyaan bodoh yang bisa saya simpulkan sendiri jawabannya)
Sekarang..
Semangatnya yang dulu bergulungan macam ombak tersebut sudah terpecah pecah berserakan ntah ke tepian pantai mana saja. Semuanya sudah terkikis oleh pasir tak peduli sekuat apa saya berusaha merangkuhnya, saya sadar kekuatan saya sudah tidak seperti dahulu lagi.
Saat saya menangis dan mengungkapkan sesal saya ini padanya, ia pun membalasnya dengan tangis yang sama... Tapi saya sadar, dia sudah terlalu susah untuk saya gapai.
***********
Friday, February 25, 2011
status
Status. Bukan status pernikahan loh. Telinga dan mata kita pasti sudah akrab dengan tulisan "What's on your mind" di sebuah situs jaringan sosial, Kitapun pasti sudah lihai tentang bagaimana cara mengungkapkan isi otak kita meskipun secuil di YM, Bahkan BBpun memberi kita keleluasaan menyiarkan perasaan kita pada khalayak terbatas pengguna sesama BB dan banyak lagi situs jaringan sosial lain memberikan fasilitas serupa. Seringkali kita terpancing untuk menuliskan apa isi hati kita saat itu namun terkadang kita juga tidak menghiraukannya sama sekali dengan alasan apapun.
Menulis status buat saya bukan cuma sekedar ajang pamer isi hati, ngomongin orang lain, sentilan kecil pada orang tertentu. Status buat saya kadang menjadi bumerang hebat yang siap merajam kita saat kita tidak berhati hati. Sering kali orang merasa tersindir dan ujung-ujungnya tersinggung. Seseorang sampai mengirimi pesan khusus dan menanyakan maksud status saya. Iyah, status kita kadang sering kali disalah artikan. Hal ini yang membuat saya tidak bebas menulisnya. Bukan karena akan tanpa disadari menyakiti orang lain namun juga menikam diri sendiri. Ujung ujungnya, hanya status palsu yang bisa saya ketik. Ukuran palsu maksud saya adalah status yang "bukan saya banget" Tapi tak menutup kemungkinan sayapun masih sering menuliskan sesuatu yang "dalam" sekali saking tak bisanya mengontrol luapan hati (wuekss).
Sering saya iseng chatting dengan beberapa kawan, misalnya saya ingin memasang foto "nggilani" alias "norak" saya dengan seorang mantan. Seorang kawan yang terkenal bijak mengingatkan saya akan resikonya. Dan yah, akhirnya saya pasang juga dengan resiko apapun. Bahkan jika suatu hari nanti mantan saya tersebut mendapati foto itu terpampang di facebook saya dan ia akan mencak mencak minta dihapus, saya akan menertawakannya dan menjawab, "masalah gitu buat kamyu? kalau masalah yah jangan dibuka dong. susah sekali kau ini..."
Yah namun kadang saya harus menahan beberapa kata untuk tidak diobral di muka umum karena tadi, will put the dagger into somebody's heart. Biarlah... saya kehilangan kebebasan di facebook dan social media lain. Toh masih ada blog pribadi yang membiarkan saya mengumpat, menulis, dan mengadu. Dengan kata lain,
Selamat menulis status yah.. Jangan lupa buat status yang asli, jangan yang fake. Ga lucu tuh. :))
Thursday, February 10, 2011
Hectic days
Saya akui iya.
Sudah sebulan ini saya berasa seperti nenek nenek bawel yang tidak henti hentinya ngomel saat apa yang ada di depan saya menjadi tidak semestinya. Di pekerjaanpun demikian. Partner kerja baru yang "freak" dan "autis wannabe" serta agak sulit diarahkan (makin yakin bahwa saya tidak setelaten itu mengajari orang yang know nothing) ataupun beban kerja tambahan yang membuat saya harus menambah ruang lain di kepala.
Hubungan saya dengan beberapa teman juga terasa makin menjauh. Kadang mereka yang tidak punya waktu untuk chatting, kadang juga saya yang baru sore hari menjawab sapaan mereka.
Ntahlah jika dulu saya selalu berharap bisa bercakap cakap jarak jauh dengan teman teman saat ini saya sudah tidak terlalu memusingkannya jika hal itu tidak terjadi.
Saya juga sering sekali merasa pusing ataupun migrain mendadak saat akan dan bangun tidur. Saya cari penyebabnya apakah mungkin karena kacamata yang tidak pernah saya pakai, ataukah karena keberadaan gigi bungsu yang mulai on off sakit, ataukah juga karena sedikit "stress" or jangan jangan di bawah sadar saya, saya terlalu memikirkan hal hal lain yang sering membuat mimpi malam saya tidak indah. Ntahlah..
Sayapun sempat berkesimpulan bahwa saya membutuhkan vacation alias liburan, namun ternyata tidak. Sekembalinya saya dari acara kemping, naik gunung dan lain lain itu, hati saya tetap saja tidak tenang.
Setiap ucapan yang sok "hebat" dan kata kata mutiara yang dulu saya percayai bisa menjadi motivational quotes buat hidup malah menjadi sampah.
------------------------
Gosh in hell I know you are around my air at the moment. Enjoy it then!
Wednesday, December 15, 2010
Tahu
I'm Tahu lover.
Siang saya meminta lauk tahu di setiap pilihan menu tempat saya biasa makan.
Sore jika ada pengumuman gorengan datang, saya lebih suka mencomot tahu.
Di Surabaya saya penggemar tahu campur, tahu tek tek, lontong balap dengan irisan tahu yang porsinya lebih.
Tahu comes to my life almost everyday...
Tuesday, December 14, 2010
Sunday, December 12, 2010
Pangrango
"Ayo Sue bergaya seperti Soe Hok Gie."
"Ha? Gaya apa?" emang kudu gaya kek dia yah?
Okelah, sayapun bergaya sambil membenarkan celana raincoat oranye yang kegedean dan belepotan dengan comberan comberan yang saya lewati sebelumnya selama perjalanan menuju puncak dari pagi jam 4 subuh tadi.
Ah sudahlah, sepertinya menyenangkan juga berdiri di atas batu yang tidak terlalu tinggi itu. Konon katanya itu batu bernama tugu triangulasi yang menjadi penanda bahwa itu adalah puncak Pangrango.
Well, What I care most was I had been walking for 3 hours, creeping each time I passed some fallen bar, trees and passed a water source trail which I thought it was raining on top.
Beberapa jam sebelumnya di beberapa persimpangan saya meminta kedua teman senior saya itu berhenti, namun ntah apa yang mengejar mereka, mereka cepat sekali sedangkan saya yang sudah lama sekali tidak menanjak rasanya engap dan ngos ngos an sendiri berjalan seperti keong racun, pelan sekali, mengambil napas berulang ulang padahal hanya beberapa langkah saja naiknya. Mungkin mereka ingin cepat sampai, mungkin mereka ingin membuat saya berjalan cepat, mungkin mereka takut hujan turun jika terlalu lama di jalan sehingga perjalanan tidak nikmat dan jadi kesiangan. Sayapun mengikuti langkahnya.
Di satu persimpangan yang lain saya menyempatkan diri berganti kaos orange saya yang bertulis, "I love mom". Sebenarnya itu bukan kaos saya sih. Itu kaos ponakan saya, Hafidz yang masih duduk di TK B dan kebetulan sizenya pas serta tulisannya lucu, jadi saya sempatkan "meminjam" waktu terakhir pulang ke Surabaya.
"Ayo, ayo... puncak su dekat!" Mbak Swasti berkata dengan muka lempeng dan meyakinkan. "Yes. Puncak sudah dekat." Ucap saya dalam hati.
Ternyata, KASPO. Alias Mbujuk alias bokis. Gw kena tipuuuu :((
Puncak Pangrango tak sedekat itu my man. Dia masih terjal dan merapat serta sedikit "jembrot" karena hujan.
Lalu pukul 7 teng kami menyapa tugu hijau tadi, 3 jam yang penuh perjuangan. Sebut saya agak lebay jika akhirnya saya bersyukur sejenak tanpa menangis saat akhirnya saya bisa menggapai puncak yang sudah berkali kali gagal untuk saya injak.
Di sana saya cuek bebek wekwek ketika segerombolan berondong muda yang seger seger itu memergoki kami bergaya dengan pose alay, eneg, sekaligus manis manja di atasnya.
Hey,it was my first time there, let me be alay-norak-ndeso a while.
Kemudian saya diajak menuruni lembah yang saya idam idamkan. Mandalawangi. Ternyata ia indah, saya pernah mendengar seorang pendaki terkenal yang meninggal di puncak Semeru itu sering dihubung-hubungkan dengan lembah bertabur eidelweis ini. Ah, sekali lagi, saya tidak peduli. Saya hanya tau saya menikmati kabutnya, suasana terang-mendung dan bermentari sejenak di sana. Saya hanya sedang menikmati saat jari jari kaki saya yang melepuh bisa menari riang di atas kerikil kerikil tanah itu saat mbak Aris menginstruksikan pada saya, "ke kanan sedikit sue, lari cepet cepet agak jauh lagi, iya.... sip." katanya kemudian memencet shutter botton kameranya. Oh iya, sebelumnya kami berdua cukup kompak untuk mengukir alis kami dengan pinsil alis.
Well, I can't leave my eyebrow pencil dan syukurlah kali ini saya ada temannya. Hihihi....
Lalu kami memasak la fonte, ditemani bajigur serta teh panas. Piknik singkat dan menyenangkan di dataran luas berkeliling eidelweis.
Emma...di mana ia, kawan kami tersayang itu harus menuntaskan mimpinya di Kandang badak karena ia memilih istirahat dan menjaga tenda tenda kami, semoga ia baik baik saja di sana. Semoga ia tak lupa akan mandat "egois" kami, menjemur semua yang basah basah ketika kami muncak. muachhhh....
Tapi, saya ingat saya harus boy-care. Satu ritual yang tidak boleh dilewatkan saat menginjak satu tempat kekuasaan baru.
"Sue, di sana lw bakal nemu banyak sekali jamban yang luas yg bisa lw pakai untuk menuntaskan keinginan biologismu." urai kedua nini nini riang tersebut selama perjalanan.
And there I was, boy-caring in a secret place ditemani kabut serta lagu lagu OST Gie dan suara riang para berondong yang akhirnya kami ketahui dari azam adventure. Seandainya ada sinyal saya sudah mengirim pesan kepada para member "plung!" dengan tulisan, "woy, gw lagi boy-care di Mandalawangi!"
Selang satu jam kemudian kami meninggalkan Mandalawangi. Satu setengahjam berikutnya saya surprise dengan pemandangan di depan tenda kami, Emma my darling dadar guling itu sudah menyiapkan cai nteh panas untuk kami seduh dan menghilangkan kelelahan kami. Baju baju basahpun sudah ia jemur. Sepertinya membuktikan bahwa ia sudah pas jika menjadi ibu rumah tenda. ups salah Ibu Rumah Tangga. Saat anak anaknya main, ia akan memasak dan bersih bersih rumah...
Siang itu kami sibuk dengan acara memasak pasta ala Chef Swas ditemani lagu lagu dari ipod mbak Aris yang memutar lagu lagu alay....
Kira kira pukul 13.00 kami sudah siap untuk menyiksa kaki lagi. Menurun ke arah Cibodas. Selama perjalanan, kami tak henti hentinya diserbu hujan deras. Berkali kali saya meminta Emma berhenti untuk menunggu saya yang makin melamban dan berkali kali juga saya harus menutup-buka payung hijau saya. Ribet sekali. Nanti kalau sudah terbiasa (lagi) naik gunung saya tak akan membawa apapun di tangan, baik itu payung ataupun trekk pool. Saya akan meminta porter yang bawain semuanya (lohhhh???)
Karenanya kami berdua sampai di Cibodas menjelang isya, jam 19.00 saking lambatnya. Duh maap teman teman saya jalannya pelan, udah minta dianterin, minta dibangunin, minta ditungguin pula. It's not easy to be me ternyata. :D...
Very deep thankful to my wonder gal-friends.
Mbak Aris, Mbak Swasti, Mbak Emma (kok berubah jadi mbak, teteh hahahaha)
And Also, My God Almighty...
I love the trip, I wish to return, but not soon. musim hujan bow...
Thursday, November 11, 2010
100 tears away
Coba dengar dua lagu yang dulu sering diputar oleh tv swasta untuk promosi film seri ini, "Baby don't you break my heart slow" atau yang selalu jadi pembukanya "searching my soul".
Semua liriknya tidak asing di telinga dan kebanyakan memberi inspirasi untuk bangkit lagi.
Vonda Shepard di film seri ini berperan sebagai Vonda, si pianis sekaligus penyanyi di sebuah bar tempat Ally dan teman teman pengacara lainnya sering berkumpul menjelang friday night atau jam usai ngantor.
Hampir semua lagu mewakili segala hal yang dirasakan setiap tokoh di dalam serial tersebut.
Kalau saya suka sekali dengan 100 tears away.
Kadang saya berpikir ada ngga yah kantor seperti itu di Indonesia, yang menyediakan tempat buat karyawannya hang out sesudah pulang kantor di setiap Jumat. Bisa santai, ngebir, bernyanyi ataupun hanya mendengarkan
Saya sempat mengungkapkan pada Dije nan jauh di sana "Hey, I do really wanna dance with somebody now" Saking kakunya otot otot pundak dan stresnya otak saya.
Sunday, October 24, 2010
Surat Kepada Hujan
Ke Sukamantri. Sudah 3 tahun lebih berlalu, dan masih sama jejak itu. Jalanan, portal, dan pemandangannya masih seperti saat pertama kali aku menyapa tanah basah yang bersebelahan dengan lahan tapos milik mantan penguasa negeri ini.
Samar-samar aku mengenang di mana pertama kali aku dan dia menapaki bukit itu. Meskipun di waktu berikutnya dia melepeh seluruh kenangan kami, namun tidak lagi aku mengutuknya.
Rain, harusnya kemarin aku tertawa bersama kawan-kawan setiaku itu. Aku sadar, aku sudah tidak lagi sepadan dengan pembahasan mereka kecuali kenangan bodoh yang kami urut satu persatu dengan tawa. namun harusnya itu bukan masalah kan, Rain? Memang tidak bermasalah sama sekali.
Namun entah kenapa rencana untuk tergelak tanpa henti itu menjadi naik turun seperti kincir raksasa di Dufan yang pernah membuatku takut bukan kepalang itu.
Aku sedih Rain, sedih mengingat sebuah cerita singkat yang manis di awal, namun getir sekali di akhir .
Tiba-tiba rain, otakku tidak bersinergi dengan Sukamantri dan hujannya dan semua gurau di sekitarku. Tiba-tiba sakit itu terasa sekali, rain.
Semua cerita kami terputar tanpa remote di monitor maya kepalaku. Jangan bertanya seperti apa. Mungkin mirip dengan luka yang hampir mengering tapi tanpa sengaja terciprat air laut.. Perih luar biasa dan membuatku takut berada di sana.
Buitenzorg sore itu bising oleh hujan dan aku sama sekali tidak menikmati lagi percikan gerimis di luar jendela mobil kami. Aku ingin segera pergi dari kota kecil itu dan tak akan melangkah lagi ke semua tempat yang mengharuskanku singgah di situ, rain.
Rain, aku tidak ingin mengingatnya lagi. Tidak untuk menyimpannya juga di memori diamku.
Thursday, September 16, 2010
ilfeel
Tuesday, August 24, 2010
Thursday, August 19, 2010
Beaching over Sumba
Berbagi Cerita dan Cinta di Sumba : Ini, kita di Sumba tho?!!
Ini mimpi. Saya beberapa kali berucap demikian pada seorang kawan. Waktu masih berada di banku kuliah dan mengambil mata kuliah MKI (Manusia dan Kebudayaan Indonesia) secara acak saya mendapat tugas presentasi makalah tentang budaya penguburan Sumba. Saya pontang panting mencari referensi karena saat itu internet belum segahar sekarang yang dengan mudah memberi kita berbagai ulasan tentang kata kata yang kita ketik di mesin pencari informasi. Kemudian sesudah menemukan data datanya saya hanya bisa membayangkan saja seperti apa Sumba, seperti apa kuburan yang dimaksud, seperti apa kepercayaan Marapu yang mereka anut, seperti apa mereka .. orang orang Sumba. Saya hanya bisa tertarik saja dan mengingat apa saja yang terjadi saat pemakaman dilakukan.
Sebelum berangkat, ibu korlap mendapat info akan adanya upacara pamakaman di desa sebelah sehingga kita bisa melihatnya juga jika mau. Saya berbinar binar dan makin semangat untuk berangkat. Saya berbinar meskipun saya belum tau tentang desa sebelah itu sejauh apa.
Tanggal 28 Juli pagi buta saya dan kawan kawan yang jumlahnya sekitar 17 orang itu bersama sama terbang ke Sumba dengan rute Jakarta-Kupang-Waingapu dan dilanjutkan dengan truk menuju Ngadulanggi. Dari balik jendala kecil disamping tempat kami duduk di atas pesawat mata ini sudah terkagum kagum dengan pemandangan daratan di Sumba yang terlihat dari udara. Pasir putih yang memisahkan laut hijau-biru dan pulaunya, daratan yang saling menggelembung membentuk bukit bukit berwarna cokelat dari udara membuat saya melupakan rasa takut untuk menengok ke bawah. Saya hanya bisa melihat sambil berdecak kagum tentang betapa kayanya negeriku yang mengandung ranah beranak pinak yang berbeda satu dengan yang lainnya dan tanah dibawah pesawat ini adalah contohnya. Jadi kenapa harus ribut mengurus paspor dan berburu tiket pergi ke negeri tetangga jika pulau pulau di negara kita saja belum sempat kita singgahi seluruhnya. Oh iya saya lupa, sebagian menganggap kalau pernah pergi ke Singapore atau ke Malaysia atau ke Vietnam dan lain lain itu lebih keren daripada ke Sumba, ke Rote, ke Kupang dan lain lain yang berbau Indonesia.
Sesampai di Waingapu kami disambut oleh Adipapa, Yubi dan Umbu Angga, koordinator di Waingapu dan Ngadulanggi. Juga Om CT dan Nikk yang sudah tiba dahulu di sana. Sebagai penyambutan, Dr Dani dokter di RS di Waingapu menyambut kami dengan makan siang bersama di Rumah sakit. Terima kasih dokter :)
Untuk memasuki Desa Ngadulanggi ternyata tidak muda. Kami membutuhkan 4-5 jam lamanya dari Waingapu. Kira kira pukul 6.30 malam kami mendengar suara keramaian dari alat musik gong dan kentongan yang bercampur dengan suara orang orang yang saling bersahutan sebagai tanda menyambut kami. Truk yang kami tumpangi tidak berhasil melewati sungai kecil saking banyaknya batu batu di sekitar sungai dan menyebabkan kami berjalan sendiri menuju desa.
"Kita akan tidur di ruang kelas SD Ngadulanggi, ingat!" Kata Tyty, kordinator lapangan yang tak henti hentinya bicara dari awal acara dimulai sampai akhir.
Tari tarian selamat datang yang ditampilkan wanita wanita Ngadulanggi makin membuat suasana malam makin ramai, mereka mempersilahkan kami duduk di banku banku sederhana di bawah tenda terpal yang sudah mereka siapkan untuk kami. Tak lupa kehadiran pinang yang mereka suguhkan sebagai sambutan. "Ayo, silahkan dimakan. ini adat kami untuk menyambut tamu." Seloroh seorang wanita dengan logat Sumba yang sedari tadi mengikuti saya, nantinya saya baru tahu bahwa itu adalah istri kepala sekolah SD Ngadulanggi. Sayapun sempat mencicipi. Rasanya sepet. Tapi tetap saya makan karena rasanya aneh dan tidak bisa diungkapkan. Pinang di adat Sumba adalah jamuan kebesaran tuan rumah untuk tamunya.
Pendudukpun bergotong royong membantu kami mengangkuti berkardus kardus barang kiriman yang mengendap di rumah Kepala Desa untuk kami olah dan tata sesuai rencana.
Nantinya saya makin mantab mengatakan kalau desa ini memang pantas menerima sumbangan dari 1n3b karena sesuai dengan misi komunitas ini "pendidikan semestinya bebas sekat geografis, suku, agama, ras, dan golongan sosial". Desa ini memang sulit dijangkau
Woka Ngiapaajar, Acara Sains dan Pelayanan Kesehatan
Nama Woka Ngiapaajar kami sematkan sebagai nama Rumah Baca yang kami buat di sana, desa yang berada di tanah yang cukup nyempil di tanah Sumba Timur. Jika diartikan, Woka Ngiapaajar artinya kebun/ladang untuk belajar.
Pagi pertama itu saya dibantu seorang teman bernama Liberina akhirnya berkutat dengan buku-buku yang sudah kami pesiapkan di Jakarta. Kami berdua banyak berhubungan dengan Bapak Sam, si Kepala Sekolah SD Ngadulanggi. Salah satu guru honorer di sana bernama Nona, akhirnya saya comot untuk kami ajari bagaimana cara kerja di rumah baca nantinya. Dari mulai mengkategorikan jenis buku, label dan mengimput buku ke dalam buku induk. Kegiatan di rumah baca ini menarik guru guru lainnya sehingga mereka ikut membantu Nona. Begitu juga dengan Bapak pendeta yang dengan senang hati membantu memberi stempel Woka Ngiapaajar di semua buku. Saya merasa kagum dengan hasil kerja para penduduk di sana yang bersama sama membuat salah satu rak buku dari bambu untuk menyusun buku-buku yang kami taruh di sana. Saya suka sekali dengan bentuk rak-nya, meskipun masih kasar setidaknya mereka bisa membuat rak buku dengan memanfaatkan bahan di sekitar desa.
Hari pertama itu juga rumah baca Woka Ngiapaajar diresmihkan oleh Bapak Camat yang sekaligus membuka acara tersebut dengan sambutan "super funky" dan membuat saya tertawa tiap kali mendengarnya.
Total buku sumbangan kami adalah 1314 buku, 262 majalah dan komik serta 732 eksemplar LKS yang kami sumbangkan untuk mengisi 2 rak di Woka Ngiapaajar. Kedua rak memang masih belum menampung semua buku yang kami berikan dan Pak Sam berkomitmen akan menyusun semua buku buku yang belum tertampung tersebut nantinya supaya lebih rapi.
Senyum bahagia di tengah terik matahari Ngadulanggi rasanya tidak menyurutkan kami untuk tetap menggelar permainan di lapangan yang letaknya di atas lembah dengan bukit bukit di keliling kami ditambah dengan muka muka ceria kawan kawan kecil yang begitu semangat dan kadang dengan usaha keras memahami bahasa Indonesia kami. Bahkan untuk memulai acara mendongeng yang digelar oleh Ijul dan Itingpun, kami membutuhkan bantuan guru guru di sana untuk mendampingi mereka supaya mengerti benar maksud cerita yang sedang mereka tonton.
Di dekat pos kesehatan, orang orang dengan wajah khas Sumba datang dengan mengenakan baju dan perlengkapan adat mereka juga terlihat antusias mendaftarkan diri ke pendaftaran dan menunggu giliran untuk dipanggil konsultasi dengan kedua dokter yang tiada sedikitpun terlihat mengeluh tersebut. Pak Kades yang akhirnyabeken dengan nama Pak Keds pun sibuk berseliweran mengatur penduduknya mengikuti acara serta dengan sigap membantu kedua dokter yang harus mentransferkan maksud mereka kepada pasien pasien.
Semua murid murid termasuk murid SD dan SMP Pulupanjang yang kami undang juga mendapatkan tas dan peralatan tulis sama dengan SD Ngadulanggi. Total orang yang kami undang kira kira 400 murid dan 700 orang untuk pelayanan kesehatan.
Pada hari H Divisi tim Rumba memang tidak sesibuk ketika mempersiapkan buku di Jakarta, sehingga kami bisa dengan leluasa menjadi bunglon untuk membantu kegiatan lain yang dilakukan oleh divisi lain mulai dari menjadi mentor dadakan, ataupun menjadi pelayan di apotek serta memberi penjelesan tentang cara mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan. Semua bekerja dengan gembira. Tak terkecuali saat tim sains melibatkan tim Rumba ketika acara mencari harta karun di rumah baca. "Hey, jangan kalian acak acak bukunya. Kalau sudah kalian kembalikan pada posisi semula!" Kata Pak Sam kepada murid muridnya yang mengikuti acara mencari harta karun tersebut. Nadanya mengeras dan siapa saja pasti menyangka Pak Sam marah. Padahal memang seperti itu cara mereka berkomunikasi. Rumah tinggal yang saling berjauhan diantara bukit bukit itu memang membuat mereka harus berkomunikasi dengan sekeras kerasnya supaya mereka saling mendengar dan itu sudah menjadi kebiasaan.
Malam harinya kami mengadakan nobar (nonton bareng) di lapangan. Laskar pelangi, Garuda di dadaku, Danias serta beberapa film dokumenter menjadi hiburan buat mereka. "Selama ini kami hanya menonton film saat menjelang Paskah atau Natal. Itu juga filmnya sama terus. Kami senang ada film lain seperti ini bagus." Ucap Nona yang mampir ke markas tempat kami beristirahat.
Sementara ibu Sita sibuk membuat kamus mini Bahasa Sumba yang diperoleh dari sumber sumber lain yang mampir ke tempat kami malam itu, Kamipun sibuk menghangatkan diri dengan kopi dan perbincangan perbincangan akrab dengan Pak Keds, Pak Sam dan saudara saudara lain karena keesokannya kami harus sudah meninggalkan Sumba dan kembali di kota dengan peradaban modern.
Hal lain yang membuat saya terheran heran adalah betapa nyenyaknya saya tertidur di atas susunan meja meja yang ditata sedemikian rupa untuk alas kami tidur dengan berselimut sleeping bag. Mungkin suasana lembah di SD Ngadulanggi yang terasa panas di siang namun sangat dingin dan menyegarkan saat kami berada di bawah pohon atau shelter seperti ruang kelas ini - apalagi jika malam datang- membuat tubuh saya mudah sekali menyerah untuk terlelap.
Malam itu adalah malam ketiga kami tidur bersama di Ngadulanggi sementara beberapa orang sudah beranjak pulang dahulu dan esoknya kami sudah harus pergi.
Esoknya... sesudah packing kamipun harus berpamitan dengan semua warga.
Ada rasa sesak menyapa di dada.. ntah apa itu.
Ah, Ngadulanggi... Kadang saya berpikir kepergian saya ke sana hanya mimpi karena akhirnya saya mampu menjangkau tanah marapu yang jauh sekali dari jangkauan ini.
Teman teman kecil, kiranya kalian harusnya mendapat ilmu yang sama dengan kami, kudunya kalian mendapat perhatian yang lebih dari sekedar ruang ruang kelas usang dan jauhnya langkah kalian menaik turuni bukit bukit untuk mendapatkan ilmu seriap harinya. Harusnya kalian bisa mendapatkan ilmu lebih jika mereka yang di atas atas itu menyediakan fasilitas yang lebih untuk kalian, sehingga kalian tidak hanya akan menjadi petani pinang, atau hanya menunggu untuk siap siap dibelis bagi adik adik perempuanku.
Apa yang kami tinggalkan di sana semoga berguna mengantarkan kalian melihat dunia luar yang lain yang belum pernah kalian dengar sekalipun...
Sampai jumpa kawan..
Sampai jumpa Sumba...