Friday, May 27, 2011

Preambule (Borneo Journal)

Hello,

Long time no see. Long time no write.

I've been missing my own words (Narcicsm? who cares :D)

Saya memasuki dunia yang benar benar baru di satu tempat di selatan Borneo. Saya suka menyebutnya Borneo daripada Kalimantan, rasanya lebih tasty. Dunia penuh debu, batu bara, laut, birokrasi dan lingkungan baru yang panas dan hujannya sering dadakan datang.

Saya tinggal bersama 9 orang lain di satu atap yang kami sebut mess blok F. Sama seperti pekerjaan sebelumnya, kali inipun saya ditempatkan di Divisi Marketing. Sebenarnya saya sangat bersyukur dengan pekerjaan sebelumnya yang sama sama menempatkan diri saya di divisi yang jadi ujung tombak suatu perusahaan karena dari situlah saya mempelajari bahwa Marketing tidak hanya sekedar menjual melainkan eksekusi berikutnyalah yang jadi point utama kepuasan pelanggan (halah).

Saya kebanyakan tinggal di camp yang mirip rumah dengan banyak kamar . Sebenarnya jatah untuk kamar di dalam miningpun ada namun untuk efisiensi kerja dan quick respond saya pun harus sering tinggal di luar. Maka di situlah saya selama hampir 2 bulan ini, kami menamainya mess blok F. Setiap hari saya bekerja di sini. Bangun tidur bukan langsung mandi dan menuju kantor. Melainkan melihat BB di samping bantal dan mengecek pesan di grup bb untuk mengetahui progress kerja apalagi yang akan dilakukan hari itu. Kemudian membuka laptop dan siap siap beraksi. Namun terkadang pula seharian i'm doing nothing karena harus menunggu ini itu.

Adalah acara sarapan dan makan malam yang saya sukai karena pada saat itu kami semua penghuni di sini kadang akan dengan sigap berkerumun di meja makan dan makan bersama sambil bersenda gurau menceritakan keseharian kita, saling mencela, menceritakan kenaikan berat badan, atau kekonyolan dan kekesalan selama menjalani kerja seharian.

Kebetulan saya ditugaskan menjadi document coordinator yang mengharuskan saya berlari sana sini untuk kelengkapan dokumen sebelum tongkang-tongkang serta vesel bisa berlayar menuju ke dishcharging point. Kata orang orang kerjaan saya enak karena traveling all day long. Well, I'm lucky for that. Tapi ingat rumput tetangga kelihatannya memang lebih hijau loh.. All works work with risk. 

Happy long weekend everybody

(To be continued)


Sunday, March 27, 2011

regret


Sesal. Sering menyeringai akhir akhir ini tiap kali saya membaca ketikan ketikan saya di jurnal Multiply, notes FB maupun blog saya. 

Sesal karena kadang saya sadar, dahulu saya sudah seriiiing sekali membuang waktu saya untuk hal hal yang menyita waktu dan kesempatan saya. 

Sesal karena saya cukup berani menyimpulkan bahwa saya sudah menyia nyiakan usia untuk harapan yang tidak jelas. Iyah, gajah didepan mata tak tampak, semut di seberang sungi tampak itulah kebanyakan yang saya alami.


Dan yang paling saya sesali adalah saya akhirnya makin sadar bahwa saya sudah pernah melewatkan kesempatan besar untuk membangun masa depan dengan seseorang yang akhirnya membuat saya sadar bahwa dialah satu satunya orang yang selama ini selalu berada di samping saya. Yang tidak pernah melupakan saya disaat ia bahagia dan bahkan saat ia sangat kekurangan. Orang yang hatinya selalu ia persembahkan untuk saya.


Sempat saya berkata padanya, seandainya saya tidak "membodohi" diri sendiri untuk mengejar hal hal bodoh tersebut, saya pasti tidak akan semenyesal sekarang. Seandainya saya mengiyakannya dari dulu dan mau memberinya kesempatan, saya tidak akan sebanyak ini mengeluarkan tenaga untuk menangis dan bertanya pada dinding dinding itu akan kenapa. (Pertanyaan bodoh yang bisa saya simpulkan sendiri jawabannya)


Sekarang..

Semangatnya yang dulu bergulungan macam ombak tersebut sudah terpecah pecah berserakan ntah ke tepian pantai mana saja. Semuanya sudah terkikis oleh pasir tak peduli sekuat apa saya berusaha merangkuhnya, saya sadar kekuatan saya sudah tidak seperti dahulu lagi.


Saat saya menangis dan mengungkapkan sesal saya ini padanya, ia pun membalasnya dengan tangis yang sama... Tapi saya sadar, dia sudah terlalu susah untuk saya gapai. 


***********

Friday, February 25, 2011

status

Sekarang kita berbicara tentang status. Sudah lama saya tak berbicara. Mungkin karena saya mendadak sok sibuk atau mungkin juga sibuk beneran. Yang terlintas tadi pagi saya ingin menulis supaya musnah penat ini.

Status. Bukan status pernikahan loh. Telinga dan mata kita pasti sudah akrab dengan tulisan "What's on your mind" di sebuah situs jaringan sosial, Kitapun pasti sudah lihai tentang bagaimana cara mengungkapkan isi otak kita meskipun secuil di YM, Bahkan BBpun memberi kita keleluasaan menyiarkan perasaan kita pada khalayak terbatas pengguna sesama BB dan banyak lagi situs jaringan sosial lain memberikan fasilitas serupa. Seringkali kita terpancing untuk menuliskan apa isi hati kita saat itu namun terkadang kita juga tidak menghiraukannya sama sekali dengan alasan apapun.

Menulis status buat saya bukan cuma sekedar ajang pamer isi hati, ngomongin orang lain, sentilan kecil pada orang tertentu. Status buat saya kadang menjadi bumerang hebat yang siap merajam kita saat kita tidak berhati hati. Sering kali orang merasa tersindir dan ujung-ujungnya tersinggung. Seseorang sampai mengirimi pesan khusus dan menanyakan maksud status saya. Iyah, status kita kadang sering kali disalah artikan. Hal ini yang membuat saya tidak bebas menulisnya. Bukan karena akan tanpa disadari menyakiti orang lain namun juga menikam diri sendiri. Ujung ujungnya, hanya status palsu yang bisa saya ketik. Ukuran palsu maksud saya adalah status yang "bukan saya banget" Tapi tak menutup kemungkinan sayapun masih sering menuliskan sesuatu yang "dalam" sekali saking tak bisanya mengontrol luapan hati (wuekss).

Sering saya iseng chatting dengan beberapa kawan, misalnya saya ingin memasang foto "nggilani" alias "norak" saya dengan seorang mantan. Seorang kawan yang terkenal bijak mengingatkan saya akan resikonya. Dan yah, akhirnya saya pasang juga dengan resiko apapun. Bahkan jika suatu hari nanti mantan saya tersebut mendapati foto itu terpampang di facebook saya dan ia akan mencak mencak minta dihapus, saya akan menertawakannya dan menjawab, "masalah gitu buat kamyu? kalau masalah yah jangan dibuka dong. susah sekali kau ini..."
Yah namun kadang saya harus menahan beberapa kata untuk tidak diobral di muka umum karena tadi, will put the dagger into somebody's heart. Biarlah... saya kehilangan kebebasan di facebook dan social media lain. Toh masih ada blog pribadi yang membiarkan saya mengumpat, menulis, dan mengadu. Dengan kata lain, 

Selamat menulis status yah.. Jangan lupa buat status yang asli, jangan yang fake. Ga lucu tuh. :))

Thursday, February 10, 2011

Hectic days

Akhir akhir ini saya sering marah marah.
Saya akui iya.
Sudah sebulan ini saya berasa seperti nenek nenek bawel yang tidak henti hentinya ngomel saat apa yang ada di depan saya menjadi tidak semestinya. Di pekerjaanpun demikian. Partner kerja baru yang "freak" dan "autis wannabe" serta agak sulit diarahkan (makin yakin bahwa saya tidak setelaten itu mengajari orang yang know nothing) ataupun beban kerja tambahan yang membuat saya harus menambah ruang lain di kepala.
Hubungan saya dengan beberapa teman juga terasa makin menjauh. Kadang mereka yang tidak punya waktu untuk chatting, kadang juga saya yang baru sore hari menjawab  sapaan mereka.
Ntahlah jika dulu saya selalu berharap bisa bercakap cakap jarak jauh dengan teman teman saat ini saya sudah tidak terlalu memusingkannya jika hal itu tidak terjadi.
Saya juga sering sekali merasa pusing ataupun migrain mendadak saat akan dan bangun tidur. Saya cari penyebabnya apakah mungkin karena kacamata yang tidak pernah saya pakai, ataukah karena keberadaan gigi bungsu yang mulai on off sakit, ataukah juga karena sedikit "stress" or jangan jangan di bawah sadar saya, saya terlalu memikirkan hal hal lain yang sering membuat mimpi malam saya tidak indah. Ntahlah..

Sayapun sempat berkesimpulan bahwa saya membutuhkan vacation alias liburan, namun ternyata tidak. Sekembalinya saya dari acara kemping, naik gunung dan lain lain itu, hati saya tetap saja tidak tenang.
Setiap ucapan yang sok "hebat" dan kata kata mutiara yang dulu saya percayai bisa menjadi motivational quotes buat hidup malah menjadi sampah.

------------------------
Gosh in hell I know you are around my air at the moment. Enjoy it then!

Wednesday, December 15, 2010

Tahu

How can I live without Tahu?

I'm Tahu lover.
Siang saya meminta lauk tahu di setiap pilihan menu tempat saya biasa makan.
Sore jika ada pengumuman gorengan datang, saya lebih suka mencomot tahu.
Di Surabaya saya penggemar tahu campur, tahu tek tek, lontong balap dengan irisan tahu yang porsinya lebih.

Tahu comes to my life almost everyday...




Sunday, December 12, 2010

Pangrango

Saya tidak mengerti kenapa kedua teman saya, Mbak Aris dan mbak Swas berebut menaiki tugu warna hijau dengan coretan coretan di sekitarnya, kemudian menyuruh saya ikutan bergaya di atasnya. Saya manut dan percaya bahwa jika sudah berpose di situ saya akan memegang bukti autentik bahwa saya sudah menggapai puncak Pangrango.
"Ayo Sue bergaya seperti Soe Hok Gie."
"Ha? Gaya apa?" emang kudu gaya kek dia yah?
Okelah, sayapun bergaya sambil membenarkan celana raincoat oranye yang kegedean dan belepotan dengan comberan comberan yang saya lewati sebelumnya selama perjalanan menuju puncak dari pagi jam 4 subuh tadi.
Ah sudahlah, sepertinya menyenangkan juga berdiri di atas batu yang tidak terlalu tinggi itu. Konon katanya itu batu bernama tugu triangulasi yang menjadi penanda bahwa itu adalah puncak Pangrango.
Well, What I care most was I had been walking for 3 hours, creeping each time I passed some fallen bar, trees and passed a water source trail which I thought it was raining on top.

Beberapa jam sebelumnya di beberapa persimpangan saya meminta kedua teman senior saya itu berhenti, namun ntah apa yang mengejar mereka, mereka cepat sekali sedangkan saya yang sudah lama sekali tidak menanjak rasanya engap dan ngos ngos an sendiri berjalan seperti keong racun, pelan sekali, mengambil napas berulang ulang padahal hanya beberapa langkah saja naiknya. Mungkin mereka ingin cepat sampai, mungkin mereka ingin membuat saya berjalan cepat, mungkin mereka takut hujan turun jika terlalu lama di jalan sehingga perjalanan tidak nikmat dan jadi kesiangan. Sayapun mengikuti langkahnya.
Di satu persimpangan yang lain saya menyempatkan diri berganti kaos orange saya yang bertulis, "I love mom". Sebenarnya itu bukan kaos saya sih. Itu kaos ponakan saya, Hafidz yang masih duduk di TK B dan kebetulan sizenya pas serta tulisannya lucu, jadi saya sempatkan "meminjam" waktu terakhir pulang ke Surabaya.
"Ayo, ayo... puncak su dekat!" Mbak Swasti berkata dengan muka lempeng dan meyakinkan. "Yes. Puncak sudah dekat." Ucap saya dalam hati.
Ternyata, KASPO. Alias Mbujuk alias bokis. Gw kena tipuuuu :((
Puncak Pangrango tak sedekat itu my man. Dia masih terjal dan merapat serta sedikit "jembrot" karena hujan.

Lalu pukul 7 teng kami menyapa tugu hijau tadi, 3 jam yang penuh perjuangan. Sebut saya agak lebay jika akhirnya saya bersyukur sejenak tanpa menangis saat akhirnya saya bisa menggapai puncak yang sudah berkali kali gagal untuk saya injak.
Di sana saya cuek bebek wekwek ketika segerombolan berondong muda yang seger seger itu memergoki kami bergaya dengan pose alay, eneg, sekaligus manis manja di atasnya.
Hey,it was my first time there, let me be alay-norak-ndeso a while.

Kemudian saya diajak menuruni lembah yang saya idam idamkan. Mandalawangi. Ternyata ia indah, saya pernah mendengar seorang pendaki terkenal yang meninggal di puncak Semeru itu sering dihubung-hubungkan dengan lembah bertabur eidelweis ini. Ah, sekali lagi, saya tidak peduli. Saya hanya tau saya menikmati kabutnya, suasana terang-mendung dan bermentari sejenak di sana. Saya hanya sedang menikmati saat jari jari kaki saya yang melepuh bisa menari riang di atas kerikil kerikil tanah itu saat mbak Aris menginstruksikan pada saya, "ke kanan sedikit sue, lari cepet cepet agak jauh lagi, iya.... sip." katanya kemudian memencet shutter botton kameranya. Oh iya, sebelumnya kami berdua cukup kompak untuk mengukir alis kami dengan pinsil alis.
Well, I can't leave my eyebrow pencil dan syukurlah kali ini saya ada temannya. Hihihi....
Lalu kami memasak la fonte, ditemani bajigur serta teh panas. Piknik singkat dan menyenangkan di dataran luas berkeliling eidelweis.
Emma...di mana ia, kawan kami tersayang itu harus menuntaskan mimpinya di Kandang badak karena ia memilih istirahat dan menjaga tenda tenda kami, semoga ia baik baik saja di sana. Semoga ia tak lupa akan mandat "egois" kami, menjemur semua yang basah basah ketika kami muncak. muachhhh....
Tapi, saya ingat saya harus boy-care. Satu ritual yang tidak boleh dilewatkan saat menginjak satu tempat kekuasaan baru.
"Sue, di sana lw bakal nemu banyak sekali jamban yang luas yg bisa lw pakai untuk menuntaskan keinginan biologismu." urai kedua nini nini riang tersebut selama perjalanan.
And there I was, boy-caring in a secret place ditemani kabut serta lagu lagu OST Gie dan suara riang para berondong yang akhirnya kami ketahui dari azam adventure. Seandainya ada sinyal saya sudah mengirim pesan kepada para member "plung!" dengan tulisan, "woy, gw lagi boy-care di Mandalawangi!"
 
Selang satu jam kemudian kami meninggalkan Mandalawangi. Satu setengahjam berikutnya saya surprise dengan pemandangan di depan tenda kami, Emma my darling dadar guling itu sudah menyiapkan cai nteh panas untuk kami seduh dan menghilangkan kelelahan kami. Baju baju basahpun sudah ia jemur. Sepertinya membuktikan bahwa ia sudah pas jika menjadi ibu rumah tenda. ups salah Ibu Rumah Tangga. Saat anak anaknya main, ia akan memasak dan bersih bersih rumah...
Siang itu kami sibuk dengan acara memasak pasta ala Chef Swas ditemani lagu lagu dari ipod mbak Aris yang memutar lagu lagu alay....

Kira kira pukul 13.00 kami sudah siap untuk menyiksa kaki lagi. Menurun ke arah Cibodas. Selama perjalanan, kami tak henti hentinya diserbu hujan deras. Berkali kali saya meminta Emma berhenti untuk menunggu saya yang makin melamban dan berkali kali juga saya harus menutup-buka payung hijau saya. Ribet sekali. Nanti kalau sudah terbiasa (lagi) naik gunung saya tak akan membawa apapun di tangan, baik itu payung ataupun trekk pool. Saya akan meminta porter yang bawain semuanya (lohhhh???)

Karenanya kami berdua sampai di Cibodas menjelang isya, jam 19.00 saking lambatnya. Duh maap teman teman saya jalannya pelan, udah minta dianterin, minta dibangunin, minta ditungguin pula. It's not easy to be me ternyata. :D...

Very deep thankful to my wonder gal-friends.
Mbak Aris, Mbak Swasti, Mbak Emma (kok berubah jadi mbak, teteh hahahaha)
And Also, My God Almighty...

I love the trip, I wish to return, but not soon. musim hujan bow...